BUMIAKTUAL-SITUBONDO, Petani di Kabupaten Situbondo kesulitan mendapatkan pupuk jenis Urea bersubsidi sejak tiga bulan terakhir. Padahal, pupuk merupakan unsur penting dalam meningkatkan produksi pertanian.
Yamin salah satu petani di Kelurahan Patokan, Kecamatan Kota Situbondo mengakui jika saat ini, petani kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi. “Di kios banyak yang kosong. Katanya, pengirimannya lambat. Terpaksa sementara ditunda (pemberian pupuk),” katanya, Senin (13/01/2020) kepada bumiaktual.com.
Dia menjelaskan, petani di lingkungan kota mulai kekurangan pupuk Urea subsidi sejak Oktober. Kedaaan ini terus berlangsung hingga awal 2020 saat ini. Bagi beberapa petani, kelangkaan pupuk bukanlah hal yang baru. Sebab, hampir terjadi setiap tahun. “Padahal, petani saat ini sedang dalam masa turun sawah. Kita sedang menanam, jadi sangat butuh terhadap pupuk,” terang Yamin.
Jika kebutuhan pupuk urea bersubsidi masih tidak terpenuhi, para petani terpaksa harus rela mengeluarkan uang lebih banyak lagi. Yakni, dengan menggunakan pupuk merk lain. “Beberapa petani dengan terpaksa beralih ke pupuk non subsidi yang harganya relatif mahal. “Kalau pakai pupuk non subsidi biayanya besar, selisih 50 ribu per satu kuintalnya,” sambungnya
Petani berharap, pemerintah daerah tanggap dalam menanggapi kelangkaan pupuk bersubsidi. Sehingga, keadaan ini tidak terus berlarut-larut.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Pemkab Situbondo, Sentot Sugiyono menjelaskan, penyaluran pupuk terakhir di Kota Santri pada Bulan Desember 2019. Pemerintah daerah berjanji akan segera menyelesaikan permasalahan ini, agar kebutuhan petani terhadap pupuk subsidi bisa terakomodir secara merata. “Kita sekarang hanya dapat alokasi pupuk kurang lebihnya 28 ribu ton, sementara kebutuhan mencapai 41 ribu ton,” paparnya. (dra/usi)
