BUMIAKTUAL,SITUBONDO – Pemkab Situbondo melakukan trobosan untuk meningkatkan daya beli dan mengurangi keramaian. Yakni, dengan menerapkan pasar online di pasar tradisional di Kota Santri. Tapi hal itu dirasa kurang maksimal. Masih banyak pembeli pasar yang memilih langusung datang ke pasar untuk membeli sendiri barang belanjaannya.
Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi II DPRD Situbondo, Hadi Prianto. Dia menyarankan agar pemerintah daerah segera membuat aplikasi market place untuk menampung semua penjual di beberapa pasar. “Ini bukan market online yang diresmikan pemerintah. Sehingga ini masih personal,” kata pria yang akrab disapa Hadi itu, Minggu (19/04/2020).
Politisi Demoktrat itu menyarankan kepala dinas perdagangan agar dalam waktu dekat ini segera membuka market online. Di mana semua pedagang yang ada di pasar tradisional itu ada di satu aplikasi. Sehingga memudahkan kepada pembeli ketika ingin mencari barang belanjannya. “Ketika hanya nomor HP saja, bagi konsumen masih sangat menyulitkan. Kami berharap ada aplikasi khusus,” pungkas Hadi.
Sementara itu, pembeli pasar selama ini masih kesusahan untuk membeli barang belanjaan melalui pasar online. Salah satunya Siti, warga di Kelurahaan Mimbaan, Kecamatan Panji Situbondo mengatakan, dirinya lebih memilih datang langsung ke pasar. Karena ingin memastikan barang belanjaannya sesuai dengan yang dia inginkan. “Sudah tahu kalau ada pasar online. Tapi kita harus telepon dulu. Apakah barang selalu cocok dengan yang diinginkan? Tidak ada yang bisa menjamin,” ujar wanita berjilbab itu.
Selain itu, ibu parobaya yang juga berprofesi sebagai penjual es campur mengatakan, letak lokasi rumahnya tidak diketahui banyak orang. Sehingga dia khawatir barang belanjaanya tidak sampai ke rumah tempat tujuan. “Tidak ada jaminan barang saya sampai ke rumah. Untuk mengurangi resiko itu, lebih baik saya ke pasar sendiri dengan memakai masker dan tetap jaga jarak antara pembeli lain,” kata Siti.
Selain itu, Sarifah salah satu pedang buah-buahan di Pasar Mimbaan menjelasakan, hingga sampai saat ini tidak ada pembeli yang memesan lewat via telepon. Semua pembelinya masi tetap ke pasar untuk memilih buah buahannya. “Tidak ada pesanan lewat online. Penghasilan tetap menurun karena Korona,” imbuhnya.
Lain halnya dengan Kiki, pedagang sayur di pasar yang sama. Dia menjelasakan sebelum pemerintah meluncurkan pasar online via telepon, pedagang senior di Pasar Mimbaan itu sudah menerapkannya. Hanya saja penerapan itu dilakukan kepada beberapa pelanggan setianya. “Sudah ada dari dulu yang beli lewat telepon. Tapi itu semua adalah pelanggan lama saya,” kata wanita berjilbab itu.
Meski demikian, di pandemi Covid 19 ini, Kiki mengakui omzet penjualan di pasar tradisional masih tetap anjlok. Sebab, beberapa pembelian dari pelanggannya sudah berkurang. “Pelanggan saya tetap beli, tapi jumlah satuannya per item sudah berkurang hingga 50 persen,” pungkasnya. (dra/usy)
