BUMIAKTUAL, MALANG – Banyak pimpinan daerah saat ini memiliki kecenderungan untuk meningkatkan ekonomi daerahnya dari sektor pariwisata. Karena jika sukses, langkah ini akan memiliki dampak nyata terhadap kesejahteraan pelaku UMKM.
Pernyataan ini disampaikan Kepala OJK Jember, Mohammad Mufid di hadapan puluhan jurnalis se-wilayah Sekarkijang (Jember, Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso dan Lumajang) dalam acara Media Gathering di Aula NK Resort, Kamis 18 September 2025. Sebagai pemimpin di lembaga yang memiliki peran literasi, inklusi dan inovasi sektor keuangan, Mufid memang seringkali diajak berdiskusi tentang pengembangan ekonomi.
“Saya sering bertemu dengan pimpinan daerah rata-rata berbicara peningkatan ekonomi melalui sektor pariwisata. Karena ini berdampak langsung terhadap pelaku UMKM,” terangnya.
Kata Mufid, salah satu daerah yang saat ini gencar dalam langkah tersebut adalah Kabupaten Situbondo. Wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah cenderung mencari produk lokal, seperti makanan, kerajinan, dan souvenir. Hal ini dapat meningkatkan permintaan produk UMKM dan membuka peluang bagi mereka untuk meningkatkan penjualan maupun menciptakan lapangan pekerjaan.
“Daerah yang pariwisatanya bagus akan memberikan dampak kepada sektor ekonomi. Ketika ini terjadi maka seluruh masyarakat akan mendapatkan manfaat. Yakni meningkatnya kesejahteraan. Salah satunya ya kepada pelaku UMKM,” ungkap Mufid.
Di ranah nasional, UMKM memang tidak bisa dipungkiri lagi memiliki kontribusi besar dalam perekonomian Indonesia. Jumlah unit usaha yang mencapai 65,4 juta dan menyerap sebanyak 123,3 ribu tenaga kerja. Kontribusi UMKM terhadap PDB Nasional juga signifikan, yaitu sebesar 60,5 persen.
Sementara itu, Kepala Bagian Pengawasan Prilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Perlindungan Konsumen, Keuangan Daerah dan Layanan Managemen Strategis, OJK Jember, Inggid Mawarsih menerangkan bahwa UMKM juga menjadi salah satu sasaran utama
dalam usaha kredit yang diberikan perbankan Sekarkijang. Prosentasenya sebesar 52,43 persen.
Berkat inilah, perbankan Sekarkijang masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Ada 47 kantor cabang dan 297 kantor cabang pembantu bank umum yang terlibat dalam intermediasi penyaluran kredit pada posisi Juli 2025. Selain itu juga ada lembaga Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang terdiri dari 36 Kantor Pusat, 40 Kantor Cabang dan 91 kantor kas.
“Kalau mayoritas kredit disalurkan ke sektor rumah tangga (konsumsi) serta perdagangan besar dan eceran. Sedangkan berdasarkan kategori usaha kredit disalurlan pada UMKM dengan prosentase sebesar 52,43 persen,” rinci Inggit.
Perempuan berjilbab ini juga menyebutkan realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) wilayah Sekarkijang hingga Juli 2025 mencapai Rp 13,20 triliun. Sedangkan untuk Jawa Timur Rp 81,89 triliun. (dra/usy)
