GURUMU DI MANA?

oleh: Salman Rudy

SITUBONDO, BUMIAKTUAL.com — Era digital membuat segala sesuatu terasa instan. Ingin belajar tafsir? Buka YouTube. Ingin tahu fikih? Cari di Google. Ingin membaca kitab? Unduh PDF. Ilmu ada di genggaman. Namun ironisnya, hati justru semakin jauh. Banyak yang fasih berdalil, tetapi mudah memaki. Banyak yang hafal hadits, tetapi kering adab.

Di tengah banjir informasi ini, ada satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab algoritma:
Gurumu di mana?

Siapa yang meluruskan saat kita salah menafsir?
Siapa yang menahan saat ego kita membesar?
Siapa yang menangis mendoakan kita di sepertiga malam?

Para ulama menjawabnya sejak 14 abad lalu dengan satu kata: Guru.

HIKMAH TIDAK BISA DIUNDUH

Allah meletakkan fondasi dakwah dalam QS. An-Nahl ayat 125:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.”

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan, hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tahu kapan harus diam, kapan harus bicara. Tahu kepada siapa harus tegas, dan kepada siapa harus merangkul.

Hikmah tidak lahir dari scroll. Ia lahir dari suhbah, kebersamaan yang panjang dengan Guru. Dari melihat bagaimana ia menahan marah. Dari menyaksikan bagaimana ia memaafkan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutnya ‘ilmun nafi’, ilmu yang bermanfaat. Dan ilmu itu hanya turun dari hati ke hati.

“Seorang murid mengambil 80 persen ilmunya dari akhlak Gurunya, bukan dari lisannya,” tulis Al-Ghazali.

Tanpa Guru, ilmu bisa menjadi pedang. Dengan Guru, ilmu menjadi obat.

BELAJAR AGAMA TIDAK BOLEH OTODIDAK

Kita akan tertawa jika ada orang yang berani mengoperasi diri sendiri lewat tutorial YouTube. Kita akan ngeri jika ada orang belajar kedokteran, farmasi, atau kedirgantaraan hanya dari Google.

Sebab ilmu-ilmu itu menyangkut nyawa manusia. Ia menuntut bimbingan ahli dan pengawasan ketat. Jika dipelajari secara otodidak, akibatnya bisa fatal.

Lalu mengapa untuk urusan agama, surga dan neraka, urusan halal dan haram, kita merasa cukup dengan kata “katanya” dan “menurutku”?

Rasulullah SAW telah memperingatkan:
“Ada tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan ketakjuban seseorang terhadap dirinya sendiri.”
(HR. Thabrani)

Tiga penyakit ini bukan tumbuh di tanah, tumbuh di dada orang yang alergi dikoreksi.

Karena itu para ulama mewanti-wanti dengan keras.

Syekh Ali bin Wafa dari Tarekat Syadziliyah berkata: “Siapa yang menginginkan kesempurnaan tanpa Guru, maka ia telah salah menempuh jalan.”

Imam Abu Yazid Al-Busthami menegaskan:
مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ أُسْتَاذٌ فَإِمَامُهُ الشَّيْطَانُ
“Barang siapa tidak memiliki Guru, maka imamnya adalah setan.”
(Tanwirul Qulub)

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Futuhul Ghaib mengingatkan: “Jangan mengambil ilmu dari lembaran. Karena lembaran tidak akan menarik kerah bajumu saat engkau melenceng.”

Bahkan Imam Malik pernah mengusir murid yang datang hanya membawa kitab. Beliau berkata: “Pulanglah. Duduklah selama 20 tahun bersama para ulama. Baru kembali ke sini.”

Jalan ini licin. Satu langkah salah niat, kita bisa tergelincir pada ujub. Satu ayat salah paham, kita bisa menyesatkan banyak orang.

TAMAN SURGA ITU ADA ALAMATNYA

Lelah? Bingung? Kosong?
Nabi SAW telah menunjukkan tempat untuk pulang:
اِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا
“Apabila kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah.”

“Apakah itu, wahai Rasulullah?”
“Halaqah-halaqah dzikir,” jawab beliau.
(HR. Tirmidzi)

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan, yang dimaksud adalah majelis ilmu. Di sanalah malaikat menaungi dengan sayapnya. Di sanalah dosa-dosa berguguran. Di sanalah hati yang mati dihidupkan kembali.

Di majelis itulah kita belajar tiga hal yang tidak dijual aplikasi:
Adab dari tatapan guru.
Sanad dari sambungan ilmu.
Barokah dari doa yang tulus.

Teknologi boleh menjadi perpustakaan. Tetapi perpustakaan tidak bisa memeluk kita saat jatuh.

Seperti diingatkan Ustadz Adi Hidayat: “YouTube bisa memberi tahu, tetapi hanya Guru yang bisa mengubahmu.”

Seperti ditegaskan Buya Yahya: “HP menyampaikan ilmu. Guru mendidik hati.”

JANGAN BERJALAN SENDIRIAN

Allah menutup ayat An-Nahl dengan kalimat yang menenangkan sekaligus menggetarkan:
Sesungguhnya Tuhanmulah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Tugas kita sederhana: mencari penunjuk jalan.

Carilah Guru. Duduklah. Tundukkan kepala. Menangislah minta ditunjuki jalan yang lurus. Jalan yang di ridhoiNya.

Karena jalan menuju Allah itu panjang, gelap, dan penuh persimpangan. Berjalan sendirian bukanlah tanda kuat. Itu adalah taruhan besar dengan kesesatan.

Imam Syafi’i berpesan hingga hari ini:
“Barang siapa tidak dicintai Gurunya, jangan harap ilmunya berkah.”

Camkanlah !
Ilmu tanpa Guru laksana bahtera tanpa nahkoda. Ia berlayar, tetapi tak tahu di lautan mana ia akan karam.

Sebelum ombak datang, sebelum angin menyesatkan, tanyakan sekali lagi pada jiwamu yang paling dalam:
Gurumu… di mana? (*)