BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Aroma sate dan nasi bakar menyeruak di sepanjang Jalan Irian Jaya. Lampu-lampu lapak berpendar, musik dari panggung mengiringi tawa anak-anak di arena permainan.
Setiap malam Sabtu, kawasan depan Pasar Mimbaan, Kecamatan Panji, ini berubah menjadi pusat keramaian warga.
Namanya Irian Jaya Night (IJN), pasar kuliner malam yang hanya buka pukul 18.00 hingga 22.00 WIB. Berdasarkan rekap Paguyuban IJN, akumulasi omzet seluruh lapak pada malam Sabtu (25 September 2026) mencapai sekitar Rp57 juta, kata Shasa.
Ketua Paguyuban IJN, Shasa Natasya, menjelaskan angka tersebut merupakan akumulasi omzet seluruh lapak, bukan pendapatan satu pedagang, apalagi keuntungan bersih.
“Alhamdulillah, omzet stabil. Dulu jarang tembus Rp50 juta, sekarang bisa Rp57 jutaan,” kata Shasa.
Saat ini, ada 166 lapak aktif setiap malam Sabtu dari total 260 anggota paguyuban. Karena keterbatasan lahan, pedagang berjualan secara bergiliran.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata omzet Rp45 juta per malam yang dicatat berita ANTARA pada Agustus 2024. Namun, perbedaan periode dan metode pencatatan membuat kedua angka itu tidak sepenuhnya dapat dibandingkan secara langsung.
IJN mulai digelar pada 17 Mei 2024 sebagai kelanjutan dari kegiatan Festival Takjil Ramadan. Dalam perkembangannya, IJN tidak hanya menjadi tempat berburu kuliner, tetapi juga ruang publik yang memadukan kuliner, hiburan, dan interaksi sosial.
Menunya beragam, dari soto Madura, kue bikang, dimsum, jajanan tradisional, hingga kuliner kekinian. Ada pula lapak kerajinan, aksesori, dan fashion.
Kata Mereka yang Datang
Rina Wahyuni (28), warga Panji, hampir tak pernah absen.
“Lengkap banget. Mau jajan berat ada, ringan ada, harganya ramah di kantong. Anak saya senang ada mainan,” terangnya.
Hendri (32), warga Besuki, datang karena penasaran setelah melihat IJN di TikTok.
“Ternyata aslinya lebih ramai. Tempatnya bersih, parkir tertib. Empat jam berasa kurang,” katanya.
Dewi Lestari (24), seorang mahasiswi, menjadikan IJN sebagai tempat nongkrong.
“Suasananya hidup, ramai, bagus buat foto-foto,” tuturnya.
Keramaian itu juga berdampak pada sektor pendukung, termasuk jasa parkir dan pedagang. “Kalau malam Sabtu di sini memang lebih ramai. Kendaraan yang datang banyak, jadi aktivitas parkir juga meningkat,” ujar Ahmad Fityan, seorang juru parkir di kawasan IJN.
Bagi pedagang, ramainya pengunjung menjadi peluang untuk memperluas pasar. Evita Sukma, pedagang Es Mojito, mengatakan keberadaan IJN membantu pedagang bertemu langsung dengan konsumen.
“Kalau di IJN pengunjungnya ramai, jadi kami punya kesempatan lebih besar untuk mengenalkan produk dan mendapatkan pelanggan baru,” ujar Evita.
“IJN ini etalase UMKM Situbondo. Banyak yang dulu hanya jualan online dari rumah, sekarang punya pelanggan tetap,” ungkap Shasa.
Pukul 22.00 WIB, lampu-lampu itu padam satu per satu. Jalan Irian Jaya kembali menjadi jalan biasa. Namun, bagi 166 pedagang malam itu, empat jam yang baru berlalu adalah alasan untuk kembali berharap pada malam Sabtu berikutnya. (rud/usy)
