Mahasiswa dari Sejumlah Negara Kagumi Museum IPS di SMAN 1 Suboh, Situbondo

BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Sejumlah mahasiswa luar negeri yang sedang menempuh studi di Universitas Negeri Malang berkunjung ke Museum IPS SMAN 1 Suboh (SMANIS), Jum’at 8 Agustus 2025. Mereka disambut hangat dengan permainan alat musik tradisional “ronjhengan”.

Museum IPS SMANIS menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat sekolah. Sebab, tempat tersebut menyimpan banyak koleksi yang relevan dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Berbagai artefak sejarah, alat musik tradisional, foto-foto Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia serta Bupati Besuki I, II dan III.

“Kita juga menyuguhkan buku-buku lawas kepada para tamu sebagai wujud konkret dari pembelajaran kontekstual yang kreatif. Para mahasiswa yang berkunjung tampak kagum melihat kekayaan budaya lokal dalam ruang yang sederhana namun sarat makna,” terang Halil Budiarto, salah satu pembinan Museum IPS SMANIS.

Nadia, mahasiswa asal Timor Leste mengungkapkan kekagumannya terhadap penyambutan SMANIS. Dia mengaku sangat kagum dengan musik tradisional yang ditampilkan Museum IPS SMAN 1 Suboh. “Saya pertama kali ke sini dan merasa unik karena di sekolah ada museum yang dapat dikunjungi oleh seluruh siswa-siswi SMANIS dan masyarakat. Ini juga menunjukkan bahwa kehadiran museum di lingkungan sekolah memiliki daya tarik tersendiri, bahkan bagi tamu dari luar negeri,” kata Nadia.

Sejumlah mahasiswa luar negeri yang sedang menempuh studi di Universitas Negeri Malang berkunjung ke Museum IPS SMAN 1 Suboh, Jum’at 8 Agustus 2025.

Pendapat lain disampaikan Fatima, mahasiswa dari Gambia. Dia mengaku terkesan dengan isi museum yang mampu menjadi gudang ilmu, terutama di bidang IPS. “Saya melihat ada musiknya, ada sejarah, dan banyak sekali hal menarik di tempat ini,” ungkapnya sambil tersenyum.

Afron mahsiswa dari Thailand menilai museum IPS SMANIS menjadi tempat yang sangat bermanfaat. “Saya melihat hal-hal baru tentang presiden, uang kuno Indonesia, dan banyak hal lainnya. Saya juga tertarik dengan alat musik angklung yang dimainkan oleh anak-anak, dan saya akan menceritakan pengalaman ini kepada keluarga saya yang ada di Thailand,” katanya.

Salah satu hal yang paling diapresiasi para tamu adalah semangat para siswa Duta Museum IPS dalam menjelaskan isi museum. Mereka yang merupakan duta Museum IPS sangat percaya diri saat menjelaskannya.

“Museum ini memang kecil, tapi ada hal yang sangat istimewa seperti memainkan musik tradisional angklung dan saya mencobanya. Saya juga melihat buku yang umurnya sekitar 70 tahun lebih,” ujar salah satu mahasiswa bernama Tidiani dari Mali (salah satu negara di Afrika Barat) dengan penuh semangat.

Tak hanya itu, seorang pengunjung lain juga memberikan apresiasi tinggi, “Saya sangat mengapresiasi anak-anak yang bisa menjelaskan tentang museum ini dengan percaya diri dan kelancaran Bahasa Inggrisnya. Saya juga melihat-lihat koleksi foto presiden dari presiden pertama hingga sekarang. Sangat menakjubkan” pungkasnya. (dra/usy)