SITUBONDO, BUMIAKTUAL.com –
Di lereng pegunungan Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, berdiri sebuah lembaga yang mengklaim berbeda. Namanya Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan Lil Alamin Puncak Legend.
Bukan rumah sakit. Bukan panti. Tapi tempat yang menggabungkan 3 hal yang jarang bertemu: Rehabilitasi, dzikir, dan kembali ke alam.
Lembaga ini dikelola Edy Supriyono, M.Sos. sebagai Direktur dan Salman Rudy, ST. sebagai Executive Manager. Mereka menangani kasus yang kerap mentok di layanan konvensional: penyakit medis kronis, gangguan psikis, stres berat, kecanduan, hingga trauma.
TEMUAN DI LAPANGAN: PENYAKIT TIDAK LAGI TUNGGAL
Data Kemenkes 2023 menunjukkan 1 dari 3 orang Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Sementara BPJS Kesehatan mencatat beban penyakit tidak menular terus naik.
“Pasien datang ke kami sudah muter ke dokter, ke psikolog, ke ustaz. Tapi tidak sembuh-sembuh. Karena yang diobati cuma badannya,” ujar Salman Rudy saat ditemui, Selasa (19/8/2026).
Inilah yang coba dijawab Puncak Legend. Metode mereka bertumpu pada 3 pilar: Rehabilitasi + dzikir + kembali ke alam atau Back to Nature.
Pasien tetap didampingi pembimbing ruhani. Tapi ditambah aktivitas dzikir rutin, konsumsi madu, berkebun, dan berjalan di alam Puncak Legend yang masih asri.
RUJUKAN SPIRITUAL: MADU DAN AL-QUR’AN
Pendekatan ini punya rujukan. Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالشِّفَاءَيْنِ: الْعَسَلِ وَالْقُرْآنِ
“Berobatlah dengan dua hal: madu dan Al-Qur’an.”
(HR. Ibnu Majah: 3452)
“Ini bukan anti sains. Ini pembuktian hadits Nabi. Dzikir dan alam obati jiwa. Madu bantu imunitas,” jelas Edy Supriyono.
Konsep dasar mereka sederhana: manusia modern sakit karena terputus dari dua hal, alam dan Tuhan. Maka solusinya mengembalikan keduanya.
Selain rehabilitasi umum, Puncak Legend merupakan Pondok Pesantren Lansia.
Program ini menyasar lansia yang ingin ketenangan jiwa untuk belajar ilmu agama tentang teknik munajat kepada Allah menuju Khusnul hotimah.
“Kami lihat banyak lansia di kota punya uang tapi kosong batinnya. Di sini mereka dapat ketenangan jiwa dan makna,” kata Salman.
TANTANGAN DAN CATATAN KRITIS
Metode ini belum memiliki standar dari Kemenkes. Puncak Legend berposisi sebagai lembaga swadaya, bukan pengganti rumah sakit.
Namun animo masyarakat tinggi. Banyak yang datang dari luar Situbondo karena merasa layanan kesehatan jiwa dan rehabilitasi kecanduan di daerah masih terbatas.
Puncak Legend sendiri menekankan: mereka tidak menjanjikan kesembuhan instan. Prosesnya butuh waktu dan kemauan pasien.
Lokasi di pegunungan dengan udara sejuk memang menjadi bagian terapi. Peserta diajak muhasabah melalui dzikir dan kembali ke alam.
Di tengah sistem kesehatan yang masih terkotak-kotak, Puncak Legend mencoba menawarkan jalan lain. Apakah ini solusi? Waktu dan data yang akan menjawab. (*)
