CAHAYA DI ATAS KABUT, Menemukan Hidupnya Hati di Puncak Legend

Oleh: Salman Rudy

BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Di Puncak Legend, kabut turun pelan setiap sore. Ia mengingatkan: yang paling pekat bukan kabut. Tapi hati yang kehilangan cahayanya.

Di pesantren sederhana di atas awan ini, kita belajar satu hal. Mata bisa melihat, akal bisa memahami. Tapi langkah sering tertahan. Ada tirai tipis antara tahu dan mengamalkan.

“Biarkan Allah yang melunakkan,” ujar Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap. “Tugas kita hanya mengetuk pintunya dengan doa dan sabar.”

Ketika Mata Melihat, Tapi Hati Buta

Empat belas abad lalu Al-Qur’an sudah memberi peta.
“Bukan mata yang buta, tetapi hati yang di dalam dada” (QS. Al-Hajj: 46)

Kebutaan fisik ada tongkatnya. Kebutaan batin, ketika kebaikan lewat di depan kita tapi tak lagi terasa.

“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka”
(QS. Al-Baqarah: 7)

Para ulama menyebut “kunci” itu akibat. Akibat hati terlalu sering menolak cahaya, hingga berkarat seperti cermin yang tak pernah diusap.

Segumpal Daging Penentu Segalanya

Di tengah hiruk pembangunan lahir, Nabi ﷺ mengingatkan pembangunan batin.
“Di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika baik, baiklah seluruhnya. Jika rusak, rusaklah seluruhnya. Ia adalah hati” (HR. Bukhari 52)

Sebelum bicara karya, benahi niat.
Sebelum bicara hasil, jaga ikhlas.
Karena kualitas luar adalah cermin kualitas dalam.

Falsafah Puncak Legend

Dari sinilah lahir ruh Puncak Legend.
Jika orang sibuk membangun fisik, di sini kita juga membangun ruh.
Jika orang cemas kekurangan materi, di sini kita cemas akan kosongnya makna.

“Allah tidak melihat rupa dan harta kalian. Dia melihat hati dan amal kalian” (HR. Muslim 2564)

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya”
(QS. Asy-Syams: 9)

Maka di sini cangkul di tangan kanan menghijaukan tanah.
Dzikir di qolbu menghijaukan jiwa. Keduanya berjalan bersama.

Kita semua pelajar. Tidak ada yang sempurna. Karena itu kita saling mendoakan:

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR. Tirmidzi 2140)

Ya Allah…
Lembutkan hati kami.
Bukakan mata kami melihat tanda-Mu.
Jangan biarkan kami tertidur saat Engkau memanggil.

Semoga Puncak Legend menjadi ruang mengingat.
Mengingat bahwa surga terdekat bukan di kejauhan.
Surga terdekat adalah saat hati hidup.
Hidup, sehingga setiap kebaikan kecil kita sambut sebagai undangan-Nya untuk pulang.

Aamiin. (*)