BUMIAKTUAL, SITUBONDO-Jika rumah sakit berfokus pada pemulihan tubuh, dan lembaga pemasyarakatan memiliki fungsi pembinaan perilaku, maka pondok pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pemulihan manusia sekaligus tempat belajar merawat alam.
Salah satu ikhtiar itu tumbuh di lereng ujung barat Situbondo, melalui Pondok Pesantren Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan Lil Alamin, Puncak Legend, Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo.
Krisis Ganda Abad Ini
Kita hidup di tengah berbagai persoalan yang saling berkelindan.
Di satu sisi, manusia menghadapi persoalan kecanduan, tekanan hidup, kecemasan, konflik keluarga, kehilangan pekerjaan, hingga rasa hampa yang membuat sebagian orang kehilangan arah.
Di sisi lain, alam menghadapi tekanan akibat perilaku manusia: hutan yang terus dibabat, lingkungan yang tercemar, sampah yang menumpuk, dan sumber daya alam yang sering diperlakukan semata-mata sebagai objek untuk dieksploitasi.
Dalam pandangan Islam, manusia bukan hanya makhluk yang hidup dan memenuhi kebutuhan duniawi. Ia adalah abdullah, hamba Allah, sekaligus pengemban amanah untuk menjaga kehidupan di bumi.
Pesantren sebagai Ruang Pemulihan Manusia
Di Puncak Legend, rehabilitasi dibangun melalui kehidupan pesantren yang sederhana: ibadah, zikir, belajar, bekerja, berkhidmah, dan hidup lebih dekat dengan alam.
Tuan Guru Moh Sazli Harahap, pembina Pondok Pesantren Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan Lil Alamin, menjelaskan bahwa pesantren yang dibinanya tidak hanya diarahkan untuk mencetak ustadz.
“Yang ingin kami bangun adalah manusia yang memahami dirinya, mengenal Allah, mampu mengamalkan ilmunya, berkhidmah kepada sesama, dan memiliki kepedulian terhadap alam. Karena ilmu tidak cukup hanya dipelajari dan disampaikan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari,” ujar Tuan Guru Moh Sazli.
- Rehabilitasi Hati dengan Zikir
Zikir, shalat malam, puasa, dan mujahadah qolbu dijalani bukan sekadar sebagai rangkaian ritual, tetapi sebagai ikhtiar untuk membersihkan hati, menumbuhkan kesadaran, dan mendekatkan diri kepada Allah.
- Rehabilitasi Akal dengan Ilmu
Melalui pengajian dan pembelajaran agama, santri diajak mengenal nilai tabayyun, berpikir jernih, rendah hati, dan tidak mudah terombang-ambing oleh informasi maupun emosi.
- Rehabilitasi Perilaku dengan Khidmah
Menyapu lingkungan pondok, memasak, merawat sesama santri, bekerja di kebun, menanam dan merawat tanaman, serta berbagai aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari kehidupan bersama.
“Santri belajar bukan hanya dari kitab dan pengajian, tetapi juga dari bagaimana ia bekerja, melayani, menjaga kebersihan, merawat tanaman, membantu sesama, dan hidup bersama. Di situlah ilmu diuji dalam kehidupan,” katanya.
Pesantren sebagai Ruang Belajar Merawat Alam
Pemulihan manusia tidak dipisahkan dari lingkungan tempat ia hidup.
Prinsip Rahmatan Lil Alamin kemudian diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari: manusia belajar menjadi lebih baik sekaligus belajar memperlakukan lingkungan dengan lebih baik.
“Kalau kita ingin membentuk manusia yang baik, maka dia juga harus belajar memperlakukan alam dengan baik. Alam bukan hanya tempat tinggal, tetapi amanah yang harus dijaga. Karena itu, santri perlu belajar dari tanah, tanaman, air, dan lingkungan di sekitarnya,” tuturnya.
Semangat ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam QS Al-A’raf ayat 56:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.”
Rahmatan Lil Alamin: Menyatukan Manusia dan Alam
Visi pesantren ini bukan mencetak orator agama semata.
Lebih jauh, yang ingin dibangun adalah manusia yang kehadirannya membawa manfaat.
“Pesantren tidak hanya ingin melahirkan orang yang pandai berbicara tentang agama. Kami ingin melahirkan manusia yang ketika berada di tengah masyarakat bisa membawa manfaat, ketika berhadapan dengan sesama bisa membawa kebaikan, dan ketika berhadapan dengan alam bisa menjaga, bukan merusak,” jelasnya.
Jika manusia ingin disembuhkan tetapi alam terus dirusak, ada keseimbangan yang hilang.
Karena itu, Puncak Legend mencoba mempertemukan keduanya: pemulihan manusia dan kepedulian terhadap alam.
Sebab pada akhirnya, tugas manusia bukan sekadar menjadi yang paling hebat.
Tugas manusia adalah menjadi rahmat. (*)
