Pesantren Yang Menyembuhkan Manusia dan Alam

BUMIAKTUAL, SITUBONDO- Dari jalan pantura Banyuglugur, perjalanan 60 menit menanjak membawa ke Dusun Krajan, Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, kabupaten Situbondo.  Jaringan komunikasi terbatas, udara makin sejuk. Di titik tertinggi kawasan itu berdiri Pondok Pesantren Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan lil ‘Alamin.

Tampak sederhana dari luar: saung bambu, kebun sayur, dan masjid kecil. Namun di dalamnya, sedang diuji sebuah gagasan. Mungkinkah pemulihan manusia dan pemulihan alam dilakukan bersamaan?

Fakta 1: Bukan Khusus Lansia, Rumah Rehabilitasi untuk Semua Usia

Selama ini banyak yang mengira pondok di Puncak Legend hanya untuk lansia. Data di lapangan berbeda.

Berdasarkan penelusuran Bumiaktual.com, September 2026, santri di sini berusia 17 hingga 78 tahun. Ada pemuda eks pecandu yang mondok untuk taubat. Ada pekerja yang terdampak PHK dan belajar bertani organik. Ada lansia yang memilih menghabiskan sisa usia dengan ibadah.

“Pintu kami tidak bertanya KTP. Pintu kami bertanya: kamu mau taubat tidak? Mau sembuh tidak?” ujar pengurus Yayasan Rahmatan lil ‘Alamin, badan hukum yang mendirikan dan mengelola pesantren ini.

Yayasan menjadi penggagas utama. Dalam praktiknya, yayasan menggandeng warga Selobanteng, relawan, dan komunitas Pondok Legend sebagai penggerak di lapangan.

Fakta 2: Tiga Pilar, Satu Konsep Rehabilitasi

Dokumen visi misi yayasan menyebutkan tiga pilar kerja:

  1. Rehabilitasi Manusia. Melalui ngaji tematik, dzikir, muhasabah, dan konseling kelompok. Sasarannya pembentukan akhlak dan kemandirian, bukan semata hafalan.
  2. Rehabilitasi Alam. Melalui penghijauan, pertanian organik tanpa pestisida, konservasi air, dan pembuatan kompos. Setiap santri wajib terlibat kerja kebun.
  3. Dakwah Rahmatan lil ‘Alamin. Dakwah yang menjangkau manusia, dan lingkungan.

Ketiganya diringkas dalam prinsip: Ubudiyah, Ukhuwah, Umran – Ibadah, Persaudaraan, Memakmurkan Bumi.

Fakta 3: Rutinitas yang Menghapus Batas Usia dan Latar Belakang

Hari-hari di pondok dimulai pukul 04.30 dengan sholat subuh berjamaah. Pukul 07.00 dilanjutkan kerja kebun. Lansia 70 tahun mencangkul berdampingan dengan pemuda 20 tahun. Sore hari ada halaqah dan berbagi kisah. Menjelang maghrib ada tausiyah.

Tidak ada fasilitas mewah. Santri tidur di lantai, makan bersama, dan mengikuti dzikir bersama atau tawajjuh setiap malam.

“Di sini saya tidak merasa dibuang anak. Saya merasa dibutuhkan cucu-cucu,” kata seorang santri lansia di sela kerja kebun.

Fakta 4: Mengapa Harus Puncak Legend?

Lokasi pesantren di Puncak Legend, Dusun Krajan, Desa Selobanteng, dipilih karena tiga pertimbangan.

Pertama, krisis lingkungan. Dahulu bukit ini gersang dan rawan longsor. Kini mulai menghijau lewat program tanam warga dan santri.

Kedua, akses penyembuhan. Lokasinya jauh dari keramaian dengan udara sejuk, dinilai cocok untuk terapi spiritual dan kesehatan mental.

Ketiga, nilai simbolik. Dari atas bukit terlihat Selat Madura, cerobong PLTU Paiton, dan hamparan perbukitan nan hijau. Warga setempat menyebut pemandangannya indah surga tersembunyi.

Dana Mandiri

Pesantren ini tidak mengandalkan proposal miliaran. Operasionalnya ditopang dari sedekah, infak, dan hasil kerja santri sendiri.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Situbondo, H. Rachmat, SH., M.Hum, mengapresiasi model yang dikembangkan pondok ini.

“Ini inisiatif pesantren yang luar biasa. Di saat banyak anak muda terjebak narkoba dan banyak lahan kritis, hadir tempat yang menyatukan pembinaan akhlak dengan penghijauan. Saya sebagai anggota komisi IV  DPRD kabupaten Situbondo mendukung penuh. Ke depan kami dorong agar program seperti ini bisa disinergikan dengan program ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat desa,” ujar H. Rachmat saat ditemui di Situbondo, 5 September 2026.

Di Puncak Legend, definisi sukses diukur berbeda. Bukan dari banyaknya kendaraan yang datang. Tapi dari berapa pohon yang tumbuh. Bukan dari jumlah santri yang lulus. Tapi dari berapa hati yang kembali tenang sebelum ajal menjemput.

Karena misi akhir pesantren ini sederhana: mengantar manusia dan alam kembali dalam keadaan baik. Menuju kehidupan yang husnul khotimah. (*) Oleh: Salman Rudy