BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Menolak Padam, mungkin kata tersebut adalah kata yang tepat untuk para pecinta dan kolektor batu akik dan Tosan aji (keris dan pusaka) di Nusantara.
Meskipun peminat batu akik sudah tidak seramai tahun 90-an dan 2014 lalu, nyatanya masih banyak kolektor batu akik dan tosan aji yang masih saling berkomunikasi hingga membentuk sebuah komunitas.
Tak kalah dengan daerah lain, Kabupaten Situbondo ternyata punya komunitas pecinta batu akik bernama KAPSI yang merupakan singkatan dari komunitas batu akik dan putus Situbondo.
Komunitas ini telah mengadakan beberapa kegiatan, salah satunya yakni Kontes dan Pameran Batu Akik dan Tosan Aji dengan tema ‘Situbondo Bergelora’ yang diadakan sejak Sabtu (6/7/2024) kemarin hingga hari ini Minggu (7/7/2024) di halaman Balai Latihan Kerja (BLK) Panji Situbondo.
Kegiatan tersebut tidak hanya dihadiri oleh pecinta batu akik dari penjuru Situbondo saja, namun juga dihadiri puluhan komunitas atau kolektor batu akik dari berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Kontes batu Akik yang diselenggarakan Komunitas Akik dan Pirus Situbondo (KAPSI) ini, bertujuan untuk memperkokoh hubungan silaturrahmi antar komunitas dan mengangkat perekonomian para pengerajin dan penjual batu akik di Situbondo maupun penjual batu akik di luar Kabupaten Situbondo.
Keterangan yang disampaikan Ketua Penyelenggara Kontes Batu Akik, Busairi mengatakan, tujuan lain dari kontes ini, mengenalkan batu akik asli Situbondo bernama Black Titus dan batu Akik dari daerah lain di Indonesia.
“Akik Pamor Indonesia harus terus kita gaungkan keberadaannya. Hal ini dilakukan agar batu akik Indonesia namanya tidak tenggelam ketenaran batu-batu akik manca negara,” jelas Busairi.
Dari ratusan bahkan ribuan pengunjung yang hadir pada hari kedua kegiatan tersebut, pantauan BUMIAKTUAL terfokus pada seorang penggemar batu akik yang ternyata adalah Bos perusahaan otobus atau PO AKAS IV dan MILA yaitu Eddy Haryadi.
Didampingi orang kepercayaannya, Pemilik PO Akan IV tersebut sempat membeli manik-manik di Lapak Saleho penjual asal Situbondo. “Raja bus Jawa Timur ini sangat ramah dan sopan saat transaksi manik-manik,” kata Saleho.
Lebih lanjut, Saleho mengatakan bahwa dirinya sangat bersyukur lapaknya dikunjungi oleh pemilik otobus Akas IV. “Saya tidak sangka kalau pemilik Akas IV mampir dan membeli manik-manik,” kata Saleho.
Dilain pihak, Eddy Haryadi pemilik Akas IV Probolinggo mengatakan bahwa dirinya datang menyaksikan Pameran dan Kontes Akik Situbondo Bergelora di undang oleh Ketua Panitia Busairi.
“Saya juga pencinta batu akik,” ujarnya, singkat.
Tidak hanya itu, Eddy juga mengungkapkan jika batu akik alami itu tidak selalu diidentikan dengan hal mistis atau dikaitkan dengan perdukunan itu sudah Kuno.
“Di Luar negeri sudah sibuk menilai batu dari keindahan dan kelangkaannya, masa Indonesia masih sibuk dengan Khodam, ayo kita majukan bersama dunia perbatuan akik alam Indonesia dari segi keindahan baik batu motif maupun permatanya. Indonesia ini tidak kekurangan batu bagus karena punya banyak gunung berapi purba, intan dan berlian kita punya Martapura, bacan kita punya, bulu macan dan lain sebagainya,” pungkasnya. (inu/usy)








