Tim Profesional Serbu Lomba Layangan di Situbondo, Total Hadiah 150 Juta Rupiah

BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Layang-layang bukan lagi sekadar permainan tradisional di Situbondo, Jawa Timur. Sebanyak 576 tim dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Kampung Kerbau, Desa Tanjung Pecinan, Kecamatan Mangaran, untuk mengikuti Lomba Layangan Bupati Situbondo Cup 2026, Sabtu (8/8/2026).

Ratusan peserta tersebut datang bukan hanya dari Situbondo dan daerah sekitar. Peserta juga tercatat berasal dari Bali, Lombok, Madura, Palembang, Manado, Samarinda, Palu hingga sejumlah wilayah di Kalimantan.

Kompetisi yang digelar di Lapangan Kampung Kerbau itu menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-208 dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp150 juta.

Lomba berlangsung menggunakan sistem gugur atau adu putus. Peserta bertanding dalam dua kategori, yakni teknik tarik-ulur serta freestyle yang dikenal dengan istilah jebret.

Ramainya peserta membuat Kampung Kerbau berubah menjadi arena pertarungan layang-layang. Kompetisi ini sekaligus menunjukkan bahwa olahraga layang-layang memiliki komunitas yang cukup luas dan mampu menarik peserta dari berbagai wilayah.

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo melihat momentum tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan layang-layang lebih jauh.

Menurut Rio, layang-layang kini telah berkembang dari permainan tradisional menjadi bagian dari olahraga dan ekonomi kreatif. Bahkan, olahraga tersebut sudah dipertandingkan dalam kompetisi internasional.

“Tujuannya adalah mengenalkan Situbondo sebagai episentrumnya layangan,” tegasnya.

Pemkab Situbondo juga melihat potensi ekonomi di balik perkembangan olahraga layang-layang.

Menurut Rio, perputaran ekonomi tidak hanya berasal dari peserta yang datang, tetapi juga dari pembuat layangan dan pedagang yang ikut meramaikan kegiatan.

Harga layangan yang disebut berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp9.000 per buah membuat kebutuhan perlengkapan peserta menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal.

Dengan ratusan tim yang datang dari berbagai daerah, aktivitas tersebut berpotensi menciptakan perputaran ekonomi selama pelaksanaan kegiatan.

Situbondo bahkan dinilai memiliki peluang untuk menjadi salah satu sentra produksi layang-layang olahraga. Rio menyebut produksi layang-layang sport dari Situbondo berpotensi menyumbang sekitar 40 persen dari produksi di Indonesia.

Jika potensi tersebut bisa dikembangkan secara konsisten, layang-layang tidak hanya menjadi agenda perlombaan tahunan, tetapi juga dapat membuka ruang bagi pelaku usaha, perajin, hingga komunitas lokal.

Di tengah berkembangnya olahraga layang-layang, aspek keselamatan juga menjadi perhatian Pemkab Situbondo.

Para pemain diarahkan untuk menggunakan area persawahan sebagai lokasi bermain. Langkah tersebut dilakukan agar aktivitas layang-layang tidak mengganggu pengguna jalan maupun berisiko tersangkut pada jaringan listrik.

Pemkab Situbondo juga menggandeng PLN untuk mengantisipasi potensi gangguan keselamatan akibat aktivitas layang-layang di sekitar jaringan listrik.

Lomba Layangan Bupati Situbondo Cup 2026 akhirnya tidak hanya mempertemukan ratusan penggemar layang-layang. Kompetisi ini sekaligus menjadi gambaran bagaimana permainan tradisional bisa dikembangkan menjadi olahraga, ruang komunitas, sekaligus peluang ekonomi kreatif bagi daerah. (dra/usy)