Malam itu aku tidak sengaja digiring ke sini, Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan lil Alamin Puncak Legend.
Kakiku yang menanjak, tapi hatiku yang diseret malaikat.
Berdirilah di Bukit Legend, diam dan tundukkan kepala.
Dengar.
Angin di sini bukan angin.
Itu desah para pendosa yang baru saja selesai menangis kepada Tuhannya.
Sebagaimana Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya”
(QS. Al-Ahzab: 41)
Maka angin pun ikut bertasbih bersama istighfar dan tasbihku.
Dzikirku malam itu hanya dua patah: Astaghfirullah… Astaghfirullah… Allah… Allah… Allah…
Dan aku baru sadar, selama ini telingaku terlalu gaduh oleh dunia, hingga tuli mendengar tasbih semesta.
Lihat ke bawah, jurang menganga.
Itulah mulut dosamu yang dulu lapar.
Kini sudah dijahit rapi oleh benang istighfar.
Aku menatapnya lama. Di sanalah dulu aku hampir binasa.
Dan kujahit ia kembali dengan qolbuku yang berdzikir: Astaghfirullahaladzim… Ya Allah, ampuni aku.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat”
(HR. Tirmidzi)
Hadits itu menghantam dadaku.
Ternyata pintu pulang masih terbuka, meski aku datang membawa banyak dosa.
Lihat ke atas, langit terbuka.
Dulu ia tertutup kabut jin.
Kini ia terbelah oleh cahaya, karena seorang murid Wali pernah meruntuhkan singgasana iblis di bumi Legend ini.
Karena Allah telah berjanji:
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya”
(QS. At-Thalaq: 2.)
Langit ini saksi.
Bahwa tempat paling gelap pun bisa terang, jika ada dahi yang mau bersujud dan qolbu yang senantiasa berdzikir.
Subhanallah wa bihamdih…
Injak tanahnya pelan-pelan.
Tanah ini dulu haus darah.
Kini ia haus air matamu.
Teteskan.
Satu tetes taubatmu lebih berat daripada seluruh bongkah batu Legend.
Sebab aku datang tanpa membawa apa-apa.
Kecuali gunung dosa di punggung, dan secercah harap di dada.
Maka kuteteskan air mataku di setiap Laa ilaha illallah yang pecah dari dadaku.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri”
(QS. Al-Baqarah: 222).
Ayat itu meluluhlantakkan aku.
Ternyata yang kotor pun masih dirindukan untuk bersih.
Tanya pada hatimu:
“Untuk apa aku nanjak sampai sini?”
Jika jawabmu “Mau foto”, turunlah. Legend bukan panggung untuk selfie.
Jika jawabmu “Mau mati dalam Husnul Khotimah”, duduklah.
Karena Legend ini adalah pusaramu yang masih diberi waktu bernafas.
Pertanyaan itu merobekku.
Dan aku memilih duduk, mengulang pelan: Laa ilaha illallah… Muhammadur Rasulullah…
Ingat sabda Nabi ﷺ:
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok hari.”
(HR. Bukhari).
Kalimat itu melumpuhkan lututku.
Di Bukit Legend, umur tidak dihitung dengan tahun.
Umur dihitung dari berapa kali lehermu mau patah menunduk saat Nama Allah disebut.
Karena sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya
“Khairun nas man thala umruhu wa hasuna ‘amaluh” (HR. Tirmidzi).
Di sini aku menghitung umurku.
Dan ternyata aku masih bayi dalam taubat.
Masih belajar mengeja: Allah… Allah… Allah…
Di bukit Legend, kaya tidak diukur dengan harta.
Kaya diukur dari sanggup tidaknya kau mengubur egomu, di tempat Nama Allah terus dilantunkan dalam dzikir.
Allah mengingatkan:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu”
(QS. Al-Kahfi: 46).
Aku membuka genggamanku.
Ternyata yang berat selama ini bukan dunia.
Tapi ego yang tak pernah mau berdzikir.
Maka sebelum turun, genggam tanah Legend.
Bisikkan:
“Ya Allah, tanah ini jadi saksi.
Aku nanjak bukan untuk gagah.
Aku nanjak karena takut mati dalam keadaan Engkau berpaling dariku.”
Dan yakinlah pada firman-Nya:
“Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingatmu”
(QS. Al-Baqarah: 152).
Aku bisikkan itu dengan air mata dan dzikir:
“Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir”
“Cukuplah bagi kami Allah, sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”
Karena siapa tahu, ini sujud terakhirku di dunia.
Lalu pulanglah.
Bawa apa?
Bawa malu. Malu jika habis dari Legend, masih berani bermaksiat.
Bawa takut. Takut jika Izrail menjemput sebelum sempat berbisik: “aku ridho Engkau Tuhanku.”
Karena Rasul ﷺ bersabda:
Cukuplah kematian itu sebagai peringatan”
(HR. Hakim).
Aku pulang membawa luka yang dijahit.
Dan hati yang baru lahir.
Di ujung nafasku masih tersisa: Astaghfirullah…
Allahu Akbar…
Legend tidak tinggi karena batu.
Legend tinggi karena di sini, ribuan ruh belajar menunduk di hadapan Nama Allah.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Barangsiapa tawadhu karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya”
(HR. Muslim).
Salam Puncak Legend, Turunlah dengan kaki. Naiklah dengan hati.
Dan pulanglah dengan banyak dzikir di qolbu, taubat di jiwa, dan Allah di tujuan. (*)
