Pusat Rehabilitasi Di Situbondo Dengan Teknologi Al-Qur’an Dan Kembali Ke Alam, Puncak Legend Tangani Penyakit Fisik hingga Trauma

SITUBONDO, BUMIAKTUAL— Pukul 02.30 WIB, suasana Puncak Legend, Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Situbondo, masih sunyi. Di sebuah saung bambu Pondok Pesantren Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan lil ‘Alamin, para santri mengambil wudhu dan bersiap mengikuti dzikir serta tawajjuh.

Sekitar 41 santri, usia 17 hingga 78 tahun, tinggal dan mengikuti pembinaan di tempat ini. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, mulai dari persoalan narkoba, kehilangan pekerjaan, hingga lanjut usia yang merasa tersisih dari keluarga.

Pondok Legend mengembangkan dua pendekatan utama:
“Teknologi Al-Qur’an” dan “Kembali ke Alam (back to nature).”

REHABILITASI DIMULAI DARI HATI

“Teknologi Al-Qur’an” bukan teknologi berupa mesin atau alat medis, melainkan istilah untuk metode pembinaan yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah.

Kegiatannya dilakukan melalui dzikir pagi dan petang, muhasabah serta istighfar, dan tawajjuh sekitar pukul 02.00–03.30 WIB.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Menurut Ustadz Heriyanto, banyak santri datang bukan hanya membawa persoalan fisik, tetapi juga beban batin.
“Yang kami dampingi bukan hanya tubuhnya. Hatinya juga perlu dibimbing,” ujarnya.

KESAKSIAN SUGIARI

Salah satu santri yang menceritakan pengalamannya adalah Sugiari, 68 tahun, warga Mimbaan, Kecamatan Panji, Situbondo.

Sebelum datang ke Puncak Legend, Sugiari mengalami pusing berkepanjangan, sulit berdiri tegak, dan aktivitasnya terbatas.

Ia menjalani pemeriksaan CT Scan di RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo. Menurut hasil pemeriksaan yang dibawanya, terdapat keterangan mengenai tumor pada otak.

Di Puncak Legend, Sugiari mengikuti dzikir, tawajjuh, ibadah, dan berbagai aktivitas harian bersama para santri.

“Dulu saya pusing terus dan berdiri saja sulit. Setelah mengikuti kegiatan di sini, saya merasakan perubahan. Sekarang saya bisa berdiri dan menjalani aktivitas,” tutur Sugiari.

Kesaksian tersebut merupakan pengalaman pribadi Sugiari.

Perubahan kondisi medis maupun perkembangan tumor tetap memerlukan pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan.

KEMBALI KE ALAM – BACK TO NATURE

Pembinaan di Puncak Legend tidak berhenti pada kegiatan spiritual.
Para santri juga diajak kembali dekat dengan alam.
Sejak pagi, mereka berkegiatan di kebun, merawat tanaman, dan lingkungan.

Santri lanjut usia dan generasi muda bekerja bersama. Dari alam mereka belajar kesabaran, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Bagi Pondok Legend, alam bukan sekadar tempat tinggal, tetapi bagian dari proses pembelajaran manusia untuk kembali mengenal dirinya.

Bukan Janji Sembuh Instan
Puncak Legend tidak menjanjikan kekayaan ataupun kesembuhan secara instan.

Yang ditawarkan adalah ruang untuk menata kembali kehidupan melalui ibadah, dzikir, kebersamaan, dan kedekatan dengan alam.

Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota itu, manusia diajak kembali kepada hal-hal sederhana: berwudhu, sholat di tengah malam, berdzikir, bekerja, merawat alam, dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan.

Puncak Legend mungkin hanya sebuah titik di atas Bukit Selobanteng. Tetapi bagi mereka yang datang membawa luka, tempat itu menjadi ruang untuk memulai kembali kehidupan.

Di sinilah manusia belajar memulihkan dirinya — dengan Al-Qur’an, dengan dzikir, dan dengan alam. Hingga suatu hari siap kembali kepada-Nya. (*)