SITUBONDO, BUMIAKTUAL – Di pelupuk bukit yang bisu, jauh dari riuh rendah dunia,
di pelukan angin Puncak Legend,
selama 10 hari, 41 santri mengikuti suluk di PONDOK PESANTREN LANSIA REHABILITASI MANUSIA DAN ALAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN.
Kawasan perbukitan ini sengaja dipilih karena jaringan komunikasi terbatas dan jauh dari hiruk pikuk kota.
Di sinilah kami sedang belajar satu ilmu yang telah lama lupa:
ilmu untuk pulang.
Pulang dari bising, pulang dari gaduh,
pulang menata qalb yang berserak,
pulang mengetuk pintu yang selama ini kita abaikan:
Pintu-Nya.
Bukan pemandangan yang kami cari di sini.
Bukan ketenaran, bukan pujian.
Kami datang hanya membawa satu niat:
Suluk adalah tangga untuk mendekat kepada Allah.
Tanpa suluk, qalb ini ibarat cermin berdebu.
Ditatap tak memantulkan cahaya.
Disapa tak mendengar bisikan-Nya.
Para ‘Arifin Billah — para kekasih Allah yang arif — mewariskan rahasia:
Dalam tradisi tasawuf yang kami jalani,
di dalam dada manusia ada Tujuh Lathaif,
tujuh titik cahaya, tujuh pelita yang redup oleh karat dunia.
Maka siang dan malam kami sirami ia,
dengan satu nama yang tak pernah lelah di baca:
“Allah… Allah… Allah…”
Hingga karatnya rontok, hingga cahayanya menyala kembali.
Sebagaimana janji-Nya yang menenangkan jiwa:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
[QS. Ar-Ra’d: 28]
Sepanjang suluk ini, hidup kami sederhanakan.
Kami berusaha menjaga wudhu’ sejak fajar hingga mata terpejam,
karena kami ingat seruan-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaubat dan mencintai hamba yang menyucikan diri.”
[QS. Al-Baqarah: 222]
Dan ingatlah!
Karena Yang Kita Tuju adalah Dzat Yang Maha Suci,
maka jiwa pun harus disucikan.
Jika masih ada noda, hapus dengan air mata taubat.
Jika masih ada debu, kibas dengan angin suluk.
Lima waktu kami menegakkan shalat berjamaah.
Sesuap nasi pun kami makan berjamaah,
dimasak oleh tangan-tangan yang tak lepas wudhu,
oleh santri-santri yang tak pernah putus berdzikir.
Di dapur mengepul doa, di meja terhidang berkah.
Selama uzlah ini, kami fana’ —
“Belajar melepaskan sejenak keterikatan pada kesibukan dunia, bukan meninggalkan kewajiban.”
Handphone kami matikan, kerja kami titipkan,
keluarga dan dagang kami pasrahkan.
Kami hanya ingin satu hal:
berhenti sejenak, lalu mengingat-Nya tanpa henti.
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”
[HR. Muslim No. 2956]
Wahai jiwa,
suluk adalah madrasah para Nabi dan para Wali.
Ia jalan penting bagi siapa pun yang rindu sampai.
Dan di jalan ini, kita tak boleh berjalan sendiri.
Kita butuh pelita. Kita butuh penunjuk.
Kita butuh Guru Mursyid Kamil Mukammil,
yang menjaga adab langkah kita,
yang membisikkan arah ketika kita tersesat,
yang menuntun qalb agar tak salah alamat.
Karena Rabb kita sendiri telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah,
carilah wasilah untuk mendekat kepada-Nya,
dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung.”
[QS. Al-Maidah: 35]
Ayat ini menjadi pijakan kami.
“Wasilah” itu adalah guru, dzikir, dan amal yang mengikatkan hati kepada-Nya.
Bahkan kekasih-Nya, Baginda Nabi Muhammad ﷺ,
ketika menghadap ke Sidratul Muntaha,
beliau tetap diantar oleh Malaikat Jibril ‘alaihis salam.
Jika sang penghulu butuh pengantar —
lalu bagaimana dengan kita —
yang langkahnya masih tertatih,
yang qalbnya masih sering lupa?
Maka di Puncak Legend ini,
di antara desir angin dan tasbih yang berzikir,
kami belajar satu hal:
untuk sampai kepada-Nya, kita harus rela dituntun.
Dan di akhir suluk ini, kami hanya berani memohon:
Ya Allah, terimalah suluk kami yang hina dan penuh lalai ini.
Jadikanlah setiap tasbih sebagai penghapus dosa,
setiap lelah sebagai peninggi derajat,
dan setiap langkah pulang ini…
sebagai jalan agar kami tidak tersesat lagi saat kembali ke dunia.
Jadikan kami hamba yang Engkau cintai.
Tuntun kami agar Istiqamah setelah pulang dari sini.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. (*)
