BUMIAKTUAL.COM – Di Pondok Legend, para santri diajak memahami sebuah pelajaran yang sering terlupakan dalam kehidupan: berserah bukanlah langkah terakhir setelah semua cara menemui jalan buntu.
Berserah bukan di akhir, melainkan di awal. Bahkan sebelum kita melangkah.
Kita sering diajarkan untuk menentukan keinginan, menyusun strategi, lalu berjuang sekuat tenaga. Berserah baru kita ingat ketika segala upaya terasa tak lagi menemukan jalan.
Padahal, bagaimana mungkin kita berkata telah menyerahkan arah kepada Allah jika sejak awal kita sendiri yang menentukan segalanya?
Kita memilih tujuan berdasarkan keinginan. Kita menyusun jalan berdasarkan perhitungan sendiri. Lalu kita datang kepada Allah melalui doa, seolah-olah Dia hanya perlu menyetujui apa yang sudah kita putuskan.
Diam-diam, kita masih ingin mengendalikan segalanya.
Sering kali, kita bukan sedang menyerahkan kehendak kepada Allah. Kita hanya meminta Allah menyetujui kehendak kita.
Kita ingin Allah mengabulkan apa yang kita minta, tetapi belum tentu bersedia menerima jika jawaban-Nya berbeda dari keinginan kita.
Di sinilah kita perlu belajar berserah sejak awal: bukan sekadar meminta agar jalan kita dimudahkan, melainkan juga memohon agar ditunjukkan jalan yang memang baik untuk kita tempuh.
Di Puncak Legend, para santri lansia belajar menata diri melalui disiplin sederhana: makan secukupnya, menjaga tidur dengan bijaksana, dan memperbanyak dzikir.
Bukan untuk memusuhi kebutuhan tubuh, melainkan untuk melatih diri agar tidak diperbudak oleh keinginan. Sebab ketika kenyamanan menjadi tujuan utama, kita mudah lupa bahwa hidup bukan semata-mata tentang memuaskan diri, melainkan juga tentang merawat kejernihan hati.
Berserah sejati bukan berarti berhenti berusaha. Berserah sejati adalah tetap melangkah tanpa menjadikan ego sebagai satu-satunya kompas.
Sebelum bertanya, “Bagaimana aku mendapatkan yang kuinginkan?”, belajarlah bertanya dalam doa dan dzikir:
“Ya Allah, apakah ini baik bagiku? Apakah jalan ini mendekatkanku kepada ridha-Mu? Adakah sesuatu dalam diriku yang perlu kuperbaiki sebelum aku melangkah lebih jauh?”
Sebab tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki. Dan tidak semua yang mampu kita kejar harus kita perjuangkan.
Kebijaksanaan bukan hanya mengetahui cara mendapatkan yang diinginkan, melainkan juga mengetahui kapan sebuah keinginan perlu ditinjau kembali.
Dalam tradisi Taoisme, ada gagasan wu wei, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai tindakan tanpa pemaksaan. Ada kemiripan dengan pelajaran yang kita temukan dalam tasawuf: berikhtiar tanpa diperbudak oleh kehendak sendiri, bertawakal tanpa meninggalkan tanggung jawab, dan belajar menerima kenyataan tanpa kehilangan kesungguhan.
Kita tetap berusaha, tetapi tidak memaksa kehidupan agar selalu berjalan sesuai rencana.
Kita tetap menanam, merawat alam, dan berdzikir di tengah dinginnya kabut. Kita tetap bersungguh-sungguh dalam proses, tetapi tidak menggantungkan seluruh kedamaian pada satu hasil.
Kita bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan, tanpa menganggap diri memiliki kuasa mutlak atas segala konsekuensinya.
Sebab ada hal-hal yang bisa kita usahakan, tetapi tidak bisa kita pastikan. Ada jalan yang bisa kita rencanakan, tetapi tidak seluruhnya berada dalam kendali kita.
Di situlah tawakal menemukan maknanya: mengerahkan kemampuan terbaik dalam ikhtiar, menggunakan akal untuk menimbang pilihan, memohon petunjuk melalui doa, lalu menyerahkan hasil kepada Allah.
Namun, berserah yang matang bukan hanya tentang melepaskan hasil.
Lebih dari itu, berserah adalah keberanian untuk mengoreksi tujuan. Keberanian mengakui bahwa kita bisa keliru. Keberanian mengubah arah ketika pertimbangan yang jernih, nasihat yang bijaksana, dan kenyataan hidup menunjukkan bahwa jalan yang ditempuh perlu diperbaiki.
Sebab terkadang, yang perlu kita lepaskan bukanlah perjuangannya, melainkan keinginan untuk selalu menang menurut ukuran kita sendiri.
Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk mulai melangkah. Kita hanya perlu cukup rendah hati untuk menyadari bahwa jalan yang kita inginkan belum tentu jalan yang paling tepat.
Di Puncak Legend, kami belajar bahwa ketenangan bukan lahir karena semua keinginan terpenuhi. Ketenangan tumbuh ketika kita tetap bersungguh-sungguh menjalani kehidupan, meskipun tidak semua hal berjalan sesuai harapan.
Kami belajar untuk terus menanam tanpa menuntut setiap benih segera berbuah. Merawat alam tanpa merasa memiliki seluruh kuasanya. Berdoa tanpa mendikte bagaimana doa harus dijawab.
Dan tetap melangkah tanpa harus mengetahui seluruh rahasia perjalanan.
Sebagaimana ajaran yang diwariskan oleh Tuan Guru SS Moh Sazli Harahap:
“Penyerahan tertinggi bukan terjadi ketika kau kehabisan cara, melainkan ketika kau berhenti menganggap caramu sebagai satu-satunya kemungkinan.”
Maka, wahai jiwa yang masih lelah mengejar dunia, barangkali yang perlu kita pelajari bukan semata-mata cara berlari lebih cepat, melainkan cara memahami ke mana seharusnya kita melangkah.
Sebab hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita raih, tetapi juga tentang seberapa dalam kita belajar mengenali batas diri, menata keinginan, dan menerima kehendak Allah dengan hati yang lapang.
Pada akhirnya, berserah bukan berarti kehilangan daya untuk berjuang. Berserah adalah menemukan ketenangan di tengah perjuangan, tanpa merasa harus menguasai seluruh jalan.
Berserah bukan menyerah.
Berserah adalah tetap melangkah, tanpa memaksa kehidupan tunduk pada kehendak kita.
Dan mungkin, ketika kita berhenti memaksakan diri untuk selalu menentukan arah, saat itulah kita mulai belajar pulang kepada-Nya.
Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan Lil Alamin – Puncak Legend. (*)
