Tangan Tuhan yang Menyelesaikan Jalan Menuju Puncak Legend, Selobanteng

Oleh: Salman Rudy*

BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Bertahun-tahun menjadi misteri di benak saya. Ucapan Bapanda Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap beberapa tahun silam itu menurut akal saya sangat sulit untuk dipenuhi, bahkan tidak mungkin terwujud. Saya berpikir, siapa yang akan membangun jalan di medan yang sangat ekstrem ini. Tenaga dan uang siapa yang sanggup ?

Masih lekat dalam ingatan, dari sangat ektsremnya medan menuju puncak Legend, satu sak semen seberat 50 kg harus dipikul empat jam. Butuh enam orang untuk menandu lansia. Bahkan, tiga santri harus patah tulang.  Namun jika Hand of God yang bekerja, ternyata tidak ada yang tidak mungkin. Akal ini ternyata sangat rapuh, mudah runtuh saat berhadapan dengan kuasa Tuhan. Ucapan bapanda guru itu akhirnya terwujud juga.

Terus terang, saya tidak pernah menyangka kalau pembangunan jalan menuju puncak Legend di Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo akan menemukan jalan semacam ini. saya tidak pernah berpikir jika Allah akan memberikan dengan jalan yang tidak disangka-sangka seperti ini: tanpa banyak tangan, hanya cukup diselesaikan oleh satu santri dan satu excavator.

Memang bukan perjalanan yang sebentar untuk sampai dalam kondisi saat ini. Bayangkan saja, kita harus bersabar dan berikhtiar belasan tahun lamanya untuk sampai dalam titik ini. Menunggu 12 tahun dengan tertatih-tatih bahkan mungkin jalan atau istirahat di tempat. Saya maklumi, karena tidak ada APBD masuk, donasi nihil. Lalu, bagaimana mungkin bisa menaklukkan medan bukit yang demikian kokoh menjulang dengan jurangnya yang sangat curam.

Namun tiba-tiba saja ada satu santri. Dia tidak muncul ke publik. Tidak minta untuk disebut. Dia kemudian yang memutuskan biaya semua itu. Iya, semuanya. Tanpa menawar. membayar excavator Rp 2,8 juta perhari sampai Juni 2026. Bendahara Shasa Natasya yang memegang mutasinya. Dari hari pertama sampai target rampung. Ditransfer oleh satu nama. Namun, tak mungkin saya sebut.

Satu orang santri ini memang tidak banyak bicara. Dia memutuskan membiayai pembangunan jalan ke puncak Legend tanpa perlu rapat tim, tanpa panitia, tanpa proposal keliling. Keputusannya itu mampu membuat gunung terbelah. Kini jalan membentang. Bulan Juli mendatang diperkirakan rampung. Itu tangan siapa kalau bukan tangan Tuhan?

Iya, ‘Tangan Tuhan’ ini dengan mudahnya mengangkat pepohonan, membelah bukit.  Sekali cakar, akar pohon sebesar drum lepas. Sekali ayun, tebing setinggi rumah rata. Jalan menuju Puncak Legend kian terbentang. Tempat dimana tidak hanya untuk suluk. Namun juga ada pendidikan dasar sampai sekolah tinggi metafisika Islam, wisata alam, rehabilitasi manusia dan alam. (*)

*Humas Pesantren Lansia Rahmatan Lil Alamin, Selobanteng, Banyuglugur, Situbondo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *