Lama Tak Turun Hujan, Warga Lakukan Ritual Pojhian Hodo

BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Warga Dusun Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, melakukan ritual Pojhian Hodo. Tujuannya, untuk meminta hujan segera turun. Sebab, di saat musim kemarau, masyarakat pegunungan tidak bisa bercocok tanam.

Musim kemarau di tahun 2020 sangat terasa panjang. Oleh sebab itulah, sejumlah warga yang memanfaatkan lahan di pinggiran hutan tidak bisa bercocok tanam lagi. Rahwiyadi, salah seorang tokoh masyarakat setempat mengatakan, upacara Hodo adalah salah satu solusi yang telah dilakukan nenek moyang. “Warga akan melakukan tarian dan bunyi-bunyian,” jelasnya, Minggu (22/11/2020).

Tradisi ini sudah terun temurun oleh nenek moyang terdahulu. Tapi, selain meminta turun hujan, tradisi ini juga memiliki tujuan untuk menolak sial di wilayah tersebut. “Selain diyakini dapat memanggil hujan, upacara tersebut juga bisa menolak bala,” ungkap Rahwiyadi.

Rangkaian upacara adat meliputi persembahan sesaji dan hasil bumi warga sekitar. Secara bersamaan, ada pembacaan doa memohon kepada Allah, kemudian dilanjutkan dengan kidung disertai musik mulut, dan dilanjutkan dengan musik gamelan. “Warga seitar akan ramai berbondong bondong melihat secara langsung,” ungkap Rahwiyadi.

Diketahui  ada beberapa titik yang dijadikan lokasi upacara adat. Seperti di Pariopo sendiri ada sejumlah tempat yang dikeramatkan. Bahkan, ada di dusun lain, seperti di ghunong emas. “Di titik-titik itulah digelar upacara adat secara bergiliran, diantaranya, di Gunung Masali dan sombher mata aing (sumber mata air). Selain itu, selamatan dilaksanakan di Ghunong Bhata, Ghunong Cangkreng, dan Tapa’ Dangdang. Setelah itu baru di beberapa tempat di luar Pariopo, seperti yang dilaksanakan hari ini, di Ghunong Emas, Dukuh Curahmalang, dengan juru kuncinya Mbah Nihari,” tutup Rahwiyadi. (dra/usy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed