BUMIAKTUAL, SITUBONDO – “Dari Puncak Angker Menjadi Menara Dzikir”
Riwayat tanah tinggi yang dulu ditakuti, kini dirindui
Dahulu, Bukit Legend bukan lembah. Legend adalah puncak.
Puncak gunung yang menjulang, menembus awan, menantang langit.
Namun tinggi itu tidak mulia. Tinggi itu angker.
Kata orang tua: “Jangan lewat Puncak Legend selepas Ashar. Awan di sana bukan awan. Itu selimut jin.”
Di atas sana, bersemayam kaum Ifrit Hitam, bangsa jin penguasa ketinggian.
Mereka murka kalau ada manusia mendaki ke sana. Selalu ada kabar: “Ada yang mati mendadak di Puncak Legend.”
Pendaki hilang tanpa jejak. Burung pun enggan melintas.
Ada yang sampai puncak, sorenya waras, paginya mayat dengan mata membelalak ke langit.
Dokter bilang: “Serangan jantung.”
Orang tua bilang: “Jantungnya dicabut penunggu Legend.”
Maka Legend dicap: Puncak Haram. Puncak Membunuh. Tanah Langit yang Murka.
Dukun naik bawa sesajen, bawa kembang tujuh rupa. Puncak tetap lapar.
Sebab jin tidak kenyang dengan darah. Jin kenyang jika manusia syirik.
TURUNNYA SEORANG AHLI LANGIT BERSAMA 7 PASUKAN
Maka Allah kirim seorang hamba. Namanya Moh Sazli Harahap.
Beliau tidak datang sendirian.
Beliau datang membawa 7 pasukan. 7 petoto pilihan.
7 hati yang sudah menjual dunia. 7 ruh yang sudah bersyahadat kepada kematian.
Tidak bawa pasukan bersenjata. Tidak bawa keris.
Yang beliau bawa hanya sarung butut, tasbih kayu, dan dada yang penuh Laa ilaaha illallah.
Mereka mendaki Legend bersama. Langkah demi langkah menembus kabut maut.
Tanpa gentar. Sebab komandan mereka berkata:
“Kalau Niat Kita Lurus, Allah yang Jadi Benteng Kita.”
Di batu paling tinggi, di tempat yang paling banyak menelan nyawa, beliau tancapkan tongkat.
BERSIH-BERSIH DI ATAS AWAN DENGAN AIR YANG DILARUTI DZIKRULLAH
Lalu Tuan Guru memberi arahan.
Suara beliau tenang, tapi mengguncang langit:
“Bismillah. Kelilingi puncak ini. Sirami dengan air yang sudah kita laruti dengan Dzikrullah.”
Maka 7 petoto itu bergerak.
Mereka mengelilingi puncak Legend.
Tangan kanan bertasbih. Tangan kiri menadah kendi.
Satu persatu mereka menyiramkan air ke tanah angker itu.
Air biasa? Bukan.
Itu air yang
di dalamnya dilaruti dzikirullah disebut air tawajjuh.
Setiap siraman jatuh… tanah bergetar.
Setiap basuhan menyentuh batu… kabut hitam terbelah.
Setiap lingkaran yang mereka buat… jeruji kerajaan Ifrit runtuh satu persatu.
Beliau hanya dawuh di tengah lingkaran itu:
“Alhamdulillah. Puncak ini Sudah Bersih. Penghuni Aslinya Sudah Pindah.”
Proklamasi Kemenangan: Adzan dikumandangkan pertama kali oleh 7 suara itu. Menggema, menghancurkan singgasana ghaib. Sejak itu, tidak ada lagi yang mati mendadak.
Sejak hari itu, awan di puncak Legend berubah. Dulu hitam menakutkan. Kini putih meneduhkan.
Dulu anginnya membawa mati. Kini anginnya membawa wangi gaharu dari dzikir.
Puncak yang dulu menolak manusia, kini memanggil: “Naiklah, jika kau mau mati dengan nama Tuhan di hatimu.”
SAKSI HIDUP: KETIKA MAUT DIKEMBALIKAN
Wahai saudaraku…
Dari 7 pasukan yang setia mengelilingi puncak sambil menyiram,
ada satu kisah yang sampai hari ini membuat langit Puncak Legend ikut bersaksi.
Ada satu dari 7 petoto itu…
yang raganya sempat rebah di tengah siraman.
Nafasnya putus.
Jantungnya berhenti.
Selama 2 jam ia dinyatakan pergi.
Dunia sudah mengira ia pulang.
Tapi Allah belum mengizinkan.
Tiba-tiba matanya terbuka.
Ia duduk di antara 6 saudaranya yang masih terus menyiram dan berdzikir. Ia menangis.
Lalu ia bercerita dengan suara gemetar:
“Tadi aku dibawa. Dibawa ke sebuah alam…
Bukan alam manusia.
Aku melihat sebuah kota. Kota jin.
Ramai. Gemerlap. Indahnya melebihi Las Vegas di Amerika. Bahkan lebih daripada itu.
Lampu-lampunya tidak pernah padam. Musiknya tidak pernah berhenti. Tawa dan pesta memenuhi setiap sudut.
Tapi aku tahu… itu bukan surga. Itu perangkap.
Lalu aku ditarik kembali. Aku mendengar suara dzikir Tuan Guru dan 6 saudaraku, dan suara air yang menyiram. Dan aku hidup lagi.”
Subhanallah…
Itulah bukti.
Puncak Legend dulu adalah pusat keramaian kerajaan jin.
Tempat pesta para Ifrit.
Tempat manusia diiming-imingi dunia, lalu dicabut nyawanya.
Tapi sejak 7 pasukan itu mengelilingi dan menyiramkan Tauhid di sana…
kerajaan itu runtuh.
kemeriahan itu padam.
dan yang tersisa hanyalah lingkaran dzikir: Allahu Akbar.
BERDIRINYA PONDOK PESANTREN LANSIA PUNCAK LEGEND
Di atas tanah bekas singgasana Jin, didirikanlah Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan lil Alamin.
Bangunannya sederhana. Atapnya langit. Dindingnya kabut. Karpetnya tanah.
Tapi misinya sebesar gunung: Rahmatan Lil ‘Alamin.
Tiga Pekerjaan Puncak Legend:
1. Rehabilitasi Manusia: Di sini santri tidak diajar jadi sarjana. Mereka diajar jadi ahli taubat. Targetnya satu: Mati Dalam Husnul Khatimah.
2. Rehabilitasi Alam: Puncak yang dulu gundul karena murka, kini ditanami pohon. Jurang jadi kebun. Mata air dijaga. Sebab merusak alam sama dengan mengundang jin kembali.
3. Rehabilitasi Waktu: Di Legend, waktu tidak dihabiskan. Waktu diisi dengan ibadah, Tawajjuh, Suluk dan Ubudiyah.
Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap pernah berdiri di batu tertinggi, lalu dawuh:
“Aku Tidak Bangun Pondok di Puncak Legend ini supaya kalian Gagah. Aku Bangun Pondok ini supaya kalian ingat Allah: makin tinggi tempatmu, makin dekat kau dengan kubur. Maka persiapkan.”
LEGEND HARI INI: MENARA TAUHID DI ATAS AWAN
Dulu: Orang menunjuk Legend sambil gertak gigi: “Itu puncak maut!”
Kini: Orang menunjuk puncak Legend sambil berlinang: “Itu Puncak Taubat.”
Dulu: Naik ke puncak Legend bawa sesajen.
Kini: Naik Legend bawa istighfar.
Dulu: Puncak Legend menolak jasad.
Kini: Puncak Legend menerima ruh yang mau pulang.
Maka jika engkau lewat di kaki gunung itu, tengadahlah.
Kirim Al-Fatihah untuk:
1. Kakek Guru Sayyidi Syekh H. Prof. DR. Kadirun Yahya, M.Sc.
2. Sayyidi Sekh. H. Dermoga Barita Raja Muhammad Syukur
3. Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap
Sebab Puncak Legend telah bersyahadat.
Puncak yang pernah jadi istana jin, kini jadi menara dzikir.
Dan tanah yang pernah membunuh, kini mengajarkan cara mati yang indah.
Wahai pencari puncak,
Daki Legend. Bawa dosamu. Bawa tuamu. Bawa takutmu.
Di atas sana tidak ada malaikat pencabut yang kejam.
Yang ada hanya Guru yang menuntun syahadatmu, saat Izrail datang dengan senyum.
Dari Puncak Angker menjadi Puncak Dzikir.
Legend bersaksi: Semakin tinggi kau naik dengan takdim, semakin rendah jurang neraka bagimu. (*)








