SITUBONDO, BUMIAKTUAL – Di lereng Puncak Legend Selobanteng, Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan lil ‘Alamin sedang membangun jalan dan jembatan. Proyek ini tidak khusus pondok. Proyek ini untuk semua. Untuk warga Selobanteng dan masyarakat umum, untuk petani yang ke kebun, untuk santri lansia yang mau ke pondok pesantren. Secara logika, ini kabar baik. Tapi di lapangan, logika tidak selalu berjalan lurus.
Ada sebagian warga yang justru menunjukkan sikap menahan. Ada yang mempersulit proses, ada yang membuka negosiasi baru di tengah jalan, ada yang menunggu untuk “mendapat bagian” tanpa mau terlibat dalam proses. Gotong royong susah. Dukungan moral minim.
Jujur, kami kecewa. Karena yang kami bangun ini pakai tenaga santri, pakai dana iuran santri, pakai keringat orang-orang yang bahkan bukan warga sini. Kami hanya ingin menitipkan manfaat. Tapi kekecewaan tidak boleh berhenti di tuduhan. Kita harus bertanya lebih dalam: kenapa ini terjadi?
Mungkin ini bukan soal warga tidak bersyukur. Mungkin ini soal luka. Luka karena dulu ada banyak proyek datang dan pergi tanpa pamit. Ada janji yang tidak ditepati. Ada rasa curiga pada siapa saja yang datang membawa harapan.
Mungkin ini juga soal komunikasi. Kami datang dengan niat ibadah. Tapi warga membaca dengan kacamata pengalaman. Beda bahasa, beda tafsir. Membangun jalan itu mudah. Yang sulit adalah membangun kepercayaan. Aspal bisa dihampar dalam seminggu. Tapi keyakinan bahwa “ini untuk kita bersama” butuh waktu, butuh duduk bersama, butuh bukti yang diulang-ulang.
Karena itu pondok memilih 2 hal:
Pertama, pekerjaan tetap jalan. Karena menunda kebaikan karena takut ditolak adalah bentuk lain dari putus asa. Kedua, pintu dialog tetap buka. Kami tidak akan membalas penghalang dengan penghalang. Kami akan membalas dengan sabar, dengan menjelaskan lagi, dengan mengajak lagi. Kami tidak butuh warga berterima kasih. Kami hanya butuh satu hal: jangan halangi orang lain untuk mendapat manfaat. Kepada warga Loros Selobanteng yang selama ini diam, yang mendukung dari jauh, yang mendoakan: terima kasih. Andalah penyeimbang.
Kepada yang masih ragu: mari duduk. Kita bicarakan baik-baik. Tanah ini titipan. Jalan ini titipan. Rezeki ini titipan. Masa depan anak-anak kita juga titipan.Kalau kita bertengkar soal siapa yang paling berjasa, maka tidak ada yang diuntungkan hanya waktu yang terbuang. Biarlah jembatan ini selesai. Bukan hanya untuk menyeberangkan orang. Tapi juga untuk menyeberangkan curiga menjadi percaya.
Dan kelak, ketika anak cucu kita melintas di jalan ini, semoga mereka tidak bertanya, “siapa yang membangunnya?”
Cukup mereka tahu: di tempat ini, pernah ada orang-orang yang memilih menanam kebaikan, meski jalannya penuh duri dan air mata.
Karena pada akhirnya, yang akan tetap tinggal bukan nama kita di plakat.
Tapi jejak kebaikan yang kita tinggalkan untuk orang lain.
Wallahu a’lam bishawab. (*)








