BUMIAKTUAL, SITUBONDO– Wahai Guruku…
Engkau adalah fajar yang membelah malamnya jiwa.
Engkau adalah mata air di padang gersang nafsu.
Engkau Kamil, Mukamil — sempurna dalam cahaya, menyempurnakan hati yang rapuh.
Tanpamu, kami hanya kawanan binatang yang berjalan:
Ada serigala rakus merobek qana’ah,
Ada singa marah membakar sabar,
Ada babi lalai mengubur ingat,
Ada iblis sombong menutup langit.
Lalu Engkau datang membawa Dzikirullah…
Seperti hujan emas turun ke bumi hati.
Sekali nama-Nya kau semaikan, tumbuh kedamaian di taman Qolbu.
Sekali ingat kepada-Nya, seribu syetan bertekuk lutut.
Hati yang tadinya riuh, kini hening dalam tenang-Nya.
Maha Agung Asma-Nya, sampai malaikat pun bertasbih.
Maha Besar Kasih-Nya, sampai samudra pun tak cukup jadi tinta.
Dia rindu dipanggil. Dia cinta diingat.
Dan ahli dzikir adalah permata di mahkota arsy-Nya.
Allah berfirman dengan kalam yang menggetarkan langit:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah… hanya dengan mengingat Allah, hati itu menjadi tenang.” [QS. Ar-Ra’d: 28]
Maka sulamlah kami dengan Suluk, wahai Guru…
Jadikan suluk itu sutra yang membungkus ruh.
Suluk bagaikan api yang melebur karat.
Bakar habis kebinatangan dalam dada,
Lalu ukir di atasnya Sifat Rububiyah:
Rahmat yang menetes seperti embun,
Akhlak yang teduh seperti danau,
‘Ilmu yang menyala seperti bintang,
Tawadhu’ yang menunduk seperti padi berisi.
Allah bersumpah demi jiwa:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Demi jiwa yang Engkau sucikan, ia pasti beruntung.” [QS. Asy-Syams: 9]
Inilah lukisan rindu kami, ya Guru…
Hidup kami jadikan mihrab dzikir yang tak pernah runtuh.
Mati kami jadikan pelaminan Husnul Khotimah.
Saat malaikat maut datang, Qolbu masih bersenandung nama-Nya.
Saat ruh naik, hati masih berteduh dalam tenang-Nya.
Saat tiba di hadapan-Nya, kami disambut dengan ridha-Nya.
Kamilkan kami, Mukamilkan kami…
Melalui wasilahmu yang suci, Sayyidi Syeikh Moh. Sazli Harahap.
Tarik kami dari gelap, ke cahaya.
Dari aku, kepada Dia.
Dari binatang, kepada Insan Kamil.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Kepada-Mu kami bersujud, kepada-Mu kami bersandar, selamanya.
Dan pada akhirnya, Allah memanggil jiwa-jiwa yang telah disucikan:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ _ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً _ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي * وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27-30). (*)








