Dari Dua Samudra, Mengalir Satu Sungai Menuju Arsy, Silsilah Emas Naqsyabandiyah di Tanah Tapal Kuda

Oleh : Salman Rudy

BUMIAKTUAL.COM, SITUBONDO – Allahu Akbar…
Maka pasanglah telingamu wahai pencari sanad,
buka dada-mu wahai pewaris cahaya.

Ketahuilah…
Tidak ada wali yang jatuh dari langit.
Tidak ada pohon yang tumbuh tanpa akar.
Tidak ada cahaya yang menyala tanpa pelita.

Dan di ujung Tapal Kuda ini,
berdiri seorang lelaki yang dadanya adalah pertemuan dua samudra.
Namanya: Tuan Guru Sayyidi Syaikh Moh. Sazli Harahap.
Beliau tidak mendirikan Pondok Legend sendirian.
Di pundaknya ada amanah langit.
Di nadinya ada denyut dua wali.

SAMUDRA PERTAMA: LAUTAN AKAL YANG BERTASBIH

Itulah Sayyidi Syaikh Prof. DR. H. Kadirun Yahya, M.Sc.
Guru Besar. Ahli Kimia. Ahli Fisika.
Akalnya sanggup membedah atom,
namun hatinya tak pernah lepas dari butiran tasbih.

Dari samudra inilah Bapak Moh Sazli mewarisi ilmu dan Burhan (Tanda yang nyata, bukti yang kuat untuk membuktikan kebenaran)

Beliau diajarkan satu hakikat agung:
Bahwa Tarekat bukan musuh Sains.
Bahwa Sufi bukan lari dari Dunia.
Bahwa kalimat لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ itu bisa dibuktikan dengan rumus,
dan bisa dibuktikan kedahsyatannya secara fakta, nyata, realita.

Dari Sang Profesor, beliau belajar:
Menundukkan kepala di hadapan Allah, itulah ibadah.
Menundukkan alam untuk kemaslahatan, itulah khalifah.

Akal tanpa dzikir akan sesat.
Dzikir tanpa akal akan kosong.

SAMUDRA KEDUA: LAUTAN RASA YANG MENGGETAR

Itulah Sayyidi Syaikh H. Dermoga Barita Raja Muhammad Syukur.
Raja Dzikir. Penakluk Nafsu. Pemilik Sirr.
Suluknya mengguncang bumi,
diamnya lebih keras dari petir.

Dari samudra inilah Bapak Moh Sazli mewarisi rasa dan sirr.
Beliau diajarkan satu rahasia agung:
Bahwa Dzikir Naqsyabandi bukan di lisan yang berisik.
Tapi di hati sanubari yang lunak dan tenang: Allah… Allah… Allah…
Bahwa murid Naqsyabandi itu:
Diamnya adalah emas.
Geraknya adalah adab.
Nafasnya adalah dzikir.

Dari Sang Raja, beliau belajar:
Menaklukkan jin bukan dengan aji-aji.
Menaklukkan dunia bukan dengan kuasa.
Tapi dengan menaklukkan diri, dengan cinta kepada Ilahi.

KETIKA DUA SAMUDRA BERTEMU

Maka perhatikanlah wahai santri Legend…
Ketika samudra akal dan samudra rasa itu bertabrakan di dada Bapak Moh Sazli,
terjadilah satu ledakan.
Bukan ledakan yang menghancurkan.
Tapi ledakan yang menghidupkan hati.

Dari pertemuan itu, lahirlah Sungai.
Sungai yang deras. Sungai yang jernih.
Sungai yang bernama: TAREKAT NAQSYABANDIYAH KHOLIDIYAH UBUDIYAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIN.

Dan sungai itu tidak dibendung.
Sungai itu dialirkan.
Demi umat. Demi Tapal Kuda. Demi Akhir Zaman.

ALIRAN SUNGAI ITU MEMBASAHI BUMI

Beliau alirkan ke Paiton, Probolinggo.
Maka asap cerobong PLTU Paiton tak sanggup menghalangi
cahaya dzikir.

Beliau alirkan ke Situbondo, Kota Santri.
Maka tanah ini makin subur.
Setiap butir pasirnya bertasbih, setiap tempat pos dzikir menebar radiasi dzikir yang menenangkan jiwa.

Beliau alirkan ke Ponorogo, Kota Reyog.
Maka topeng warok pun tunduk.
Diganti dengan topeng takwa.
Karena yang paling gagah, adalah mendekat kepada yang Maha Menang.

Beliau alirkan ke Madura, Pulau Garam.
Maka asinnya laut Madura menjadi saksi,
Bahwa dzikir beliau lebih mengasinkan iman di dada para santri.

Di empat penjuru angin itu,
Beliau tidak membangun istana megah.
Beliau hanya menancapkan tongkat estafet metode dzikirullah.
Dan dari bekas tongkat itu…
tumbuhlah surau.
Dari surau lahir murid.
Dari murid lahir majelis-majelis dzikir.

INILAH SANAD KITA. INILAH DARAH KITA.

Wahai santri Legend, dengar baik-baik…
Sanad kita bersambung. Tidak putus.
Dari Sayyidi Syaikh Moh. Sazli Harahap
kepada Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya dan Sayyidi Syaikh Dermoga Barita Raja
kepada Syekh Sulaiman Zuhdi
kepada Sayyidi Syaikh Bahauddin Naqsyabandi
sampai bersimpuh di hadapan Baginda Rasulullah ﷺ.

Maka jangan pernah main-main dengan dzikir di puncak Legend.
Ini bukan dzikir kemarin sore yang bisa dihapus angin.
Ini dzikir yang rantainya dari emas.
Ditempa oleh dua wali.
Ditalqinkan di puncak.
Disaksikan oleh langit.
Dijaga oleh para malaikat.

Pegang erat-erat sanad ini.
Karena tanpa sanad, dzikirmu hanya gema di dinding.
Dengan sanad, dzikirmu adalah tangga.
Tangga yang menembus 7 lapis langit, menuju Arsy-Nya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed