MEMAKNAI ESENSI PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Oleh: Salman Rudy

BUMIAKTUAL.COM, SITUBONDO — Kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah titik balik peradaban.

Rasulullah SAW diutus ke dunia bukan hanya untuk menyampaikan kebenaran dari sisi Allah SWT atau sekadar menegaskan mana yang halal dan haram. Ada misi yang lebih hakiki di balik kerasulan beliau: mengenalkan manusia kepada Allah SWT dan menumbuhkan rasa kehadiran-Nya di setiap hela nafas kehidupan.

Rasulullah, Pembawa Wasilah

Rasulullah SAW adalah pembawa wasilah dari sisi Allah SWT. Melalui wasilah itulah manusia dapat terhubung dan sampai kepada-Nya.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 35 Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah – jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.”

Ayat ini menegaskan kewajiban setiap orang beriman untuk mencari wasilah. Karena tanpa wasilah, perjalanan menuju Allah akan kehilangan arah. Dan kemenangan dunia akhirat hanya bisa diraih dengan wasilah itu.

Ibadah Tanpa Ruh, Hanya Gerakan

Namun wasilah bukanlah sekadar amal ibadah. Shalat, puasa, zakat dan ibadah lainnya hanyalah bentuk lahiriah dari penyembahan kepada Allah SWT.

Jika tidak ada ruhnya, maka semua ritual itu akan menjadi hampa. Ia berubah menjadi tradisi, budaya, dan kebiasaan tanpa makna.

Ibadah sejatinya memiliki dua unsur: zahir dan batin. Keduanya harus hadir agar diterima Allah SWT.

Pertama, unsur zahir. Anggota badan tunduk pada aturan yang telah ditetapkan Allah melalui Rasul-Nya. Tanpa menambah, tanpa mengurangi. Bentuk gerakan shalat, jumlah rakaat, hingga tata cara puasa sudah baku.

Kedua, unsur batin. Inilah esensinya. Kehadiran hati, kekhusyukan, dan kesadaran bahwa kita sedang berhadapan dengan Allah SWT. Tanpa batin, zahir hanyalah gerakan kosong.

Guru Ruhani, Kelangkaan di Zaman Ini

Jasad manusia bisa diajarkan oleh guru jasmani. Untuk itu kita tidak kekurangan guru. Mereka mengajarkan cara shalat, cara puasa, dan hukum-hukum syariat.

Namun ruhani manusia hanya bisa diajarkan oleh ruhani. Tidak mungkin ruh diajarkan oleh jasad, karena keduanya berbeda unsur dan sifat.

Di sinilah letak kelangkaan. Guru yang mampu menghidupkan ruhani, mengajarkan dzikir, dan menuntun hati untuk mengenal Allah SWT sangat sedikit.

Ruhani manusia diajarkan oleh ruhani Rasulullah SAW. Di dalam diri beliau mengalir Kalimat Allah yang datang langsung dari sisi-Nya.

Unsur Kalimat Allah yang ada pada diri Muhammad bin Abdullah inilah yang mengangkatnya dari manusia biasa menjadi Rasul. Nur Allah yang diberikan kepada beliau, dan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, itulah yang disebut Wasilah.

Menghidupkan Maulid dengan Makna

Karena itu, memperingati Maulid Nabi bukan hanya seremonial. Ia adalah momentum untuk bertanya: sudahkah kita mencari wasilah? Sudahkah ibadah kita memiliki ruh?

Tanpa wasilah dari Rasulullah SAW, ibadah kita hanya gerakan. Dengan wasilah beliau, ibadah kita hidup, hati kita hidup, dan kita pun sampai kepada Allah SWT.

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallim. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *