Tidak Cukup Berguru Kepada Orang Yang Hanya Bercerita Tentang Adanya ALLAH, Tapi Bergurulah Kepada Orang Yang Sanggup Mengantar Sampai Pada ALLAH

Oleh: Salman Rudy

BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Ketahuilah wahai salik,
di jalan menuju Allah ada dua penunjuk jalan.

1. Guru Jasmani: Penjaga Syariat

Ia laksana pelita di serambi.
Menerangi hukum halal-haram, fiqih, hafalan, dan kisah tentang Allah.
Ia penting, karena tanpa peta kita akan tersesat.
Namun ia hanya mengantarkan sampai di pintu. Belum masuk ke dalam.

Syariat tanpa hakikat adalah jasad tanpa ruh.

2. Guru Ruhani: Sang Pembawa Wasilah

Ia laksana cermin yang telah dipoles.
Tugasnya bukan bercerita tentang cahaya, tapi memantulkannya ke dalam dadamu.
Ia menghidupkan ruh yang mati, membersihkan karat di hati,
dan menyambungkan simpul yang putus antara engkau dengan Allah.

Inilah “orang yang sanggup mengantarkan”.
Karena ia sendiri telah sampai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Pewaris Nabi tidak mewarisi tinta, tapi mewarisi Nur.
Tidak mewarisi kitab, tapi mewarisi tarbiyah ruhani.

FIRMAN YANG MEMANGGIL: CARILAH WASILAH

Allah memanggil orang-orang beriman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah – jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah: 35)

Allah tidak hanya berkata “beribadahlah”.
Tapi “carilah wasilah”.
Karena ibadah tanpa wasilah ibarat perahu tanpa nahkoda.

Para arifbillah menjelaskan:

Wasilah adalah orang pilihan yang telah fana dalam Allah. Pengantar kita sampai kepada-Nya.
Puncaknya Rasulullah ﷺ, lalu para pewarisnya.

Allah kembali berfirman:

وَاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّ
“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.”
(QS. Luqman: 15)

Jangan berjalan dengan akal sendiri.
Ikutilah jejak orang yang telah sampai.
Karena di jalan ini, satu langkah bersama orang yang sampai,
lebih baik dari seribu tahun ibadah seorang yang berjalan sendiri.

PELAJARAN DARI MUSA DAN KHIDIR

Bahkan Nabi Musa AS, Kalimullah, masih berguru kepada Nabi Khidir.
Dengan penuh adab ia berkata:

قَالَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar?” (QS. Al-Kahfi: 66)

Jika seorang Nabi saja masih butuh guru,
bagaimana dengan kita yang penuh dosa dan kelalaian?

Ada ilmu yang tidak turun dari langit ke kertas,
tapi turun dari hati ke hati. Itulah ilmu ladunni.

RAHASIA PENGUTUSAN RASUL

Perhatikan bagaimana Allah memperkenalkan tugas Nabi:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ

“Dia mengutus seorang Rasul untuk membacakan ayat-ayat-Nya dan mensucikan mereka.”
(QS. Al-Jumu’ah: 2)

Yatlu dulu, baru Yuzakki.
Membersihkan hati didahulukan daripada menambah hafalan.
Karena hati yang kotor tidak akan mampu menampung cahaya.

Itulah tugas Guru Ruhani.
Bukan menambah wacana, tapi mengurangi hijab.

PERUMPAMAAN: HAUS DAN SUMUR

Seorang haus di padang pasir.
Guru pertama berkata: “Air itu menyejukkan.”
Hausnya tidak hilang.

Guru kedua menggandeng tangannya,
membawanya ke sumur, dan memberinya minum.
Hausnya pun sirna.

Cerita tentang Allah membuat kita berpengetahuan.
Guru yang mengantarkan membuat kita sampai.
Dan sampai itulah yang disebut ma’rifat.

Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata:

Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah.
Amal tanpa ikhlas seperti jasad tanpa ruh.
Dan ikhlas tanpa guru pembimbing adalah pohon yang tumbuh tanpa tukang kebun. Sulit untuk hidup.

JANGAN TERTIPU KULIT

Wahai pencari,
Jangan tertipu dengan banyaknya orang yang bercerita tentang Allah.

Carilah orang yang diamnya adalah dzikir,
pandangannya adalah nasihat,
dan kehadirannya mengingatkanmu kepada Allah.

Karena yang bisa mengantarkan kepada Allah,
hanyalah orang yang dirinya sendiri telah bersama Allah.

Itulah Wasilah yang diperintahkan dalam QS. Al-Maidah: 35.

Mari kita panjatkan doa para pencinta:
اَللّٰهُمَّ دُلَّنَا عَلَى مَنْ يَدُلُّنَا عَلَيْكَ
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami orang yang dapat menunjukkan kami kepada-Mu.”

“Barangsiapa tidak punya Guru, maka gurunya adalah syaitan.”
(Abu Yazid Al-Busthami). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *