BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Manusia dimuliakan bukan karena kuatnya otot.
Tetapi karena dua mahkota yang Allah titipkan: Akal dan Hati.
Selama hidup, keduanya harus berjalan beriringan.
Akal menuntun agar tidak tersesat.
Hati mengantar agar sampai kepada Allah.
Dan ketika ajal datang, yang menentukan nasib kita hanyalah satu: hati yang beriman.
AKAL: PENGENDALI BENAR DAN SALAH
Akal adalah mizan, timbangan.
Tugasnya memilah, menimbang, menolak yang batil dan memilih yang haq.
Allah berfirman:
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
“Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaan.”
(QS. Asy-Syams: 7-8)
Dengan akal, manusia bisa membedakan racun dan madu, riba dan berkah, maksiat dan ketaatan. Tanpa akal, manusia kehilangan arah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
“Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh.”
(HR. Bukhari-Muslim)
Ulama menjelaskan: “Itulah hati. Dan yang menjaganya adalah akal.”
Karena itu, hidup berakal artinya hidup dengan kendali.
Tidak dikendalikan nafsu. Tidak hanyut ikut arus. Tidak silau oleh dunia.
Akal terus bertanya: “Ini diridhai Allah atau tidak?”
Akal terus menahan: “Ini jalan ke surga atau ke neraka?”
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
“Orang berakal adalah yang tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, kapan harus maju, dan kapan harus mundur.”
HATI: ESENSI MANUSIA DAN TEMPAT IMAN
Jika akal adalah kompas, maka hati adalah nahkodanya.
Kompas bisa menunjukkan arah yang benar, tapi jika nahkodanya buta, kapal tetap akan karam.
Allah tidak menilai rupa dan harta. Yang Allah nilai adalah hati.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ
“Pada hari itu harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”
(QS. Asy-Syu’ara: 88-89)
Hati adalah esensi manusia.
Di sanalah iman bersemayam.
Di sanalah cinta kepada Allah tumbuh.
Di sanalah ma’rifat dilahirkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu, tetapi Dia melihat hati dan amalmu.”
(HR. Muslim)
Maka mati beriman artinya mati dengan hati yang selamat.
Hati yang kalimat terakhirnya di akhir hayat adalah: Laa ilaaha illallah.
AKAL MENUNTUN, HATI MENGANTAR
Inilah rumusnya agar selamat dunia akhirat:
Akal mengontrol, agar tidak salah jalan.
Hati beriman, agar sampai kepada Allah.
Akal tanpa hati melahirkan orang cerdas yang kosong.
Hati tanpa akal melahirkan ahli ibadah yang mudah tertipu.
Akal dan hati yang hidup bersama melahirkan Insan Kamil.
Contohnya Nabi Musa dan Nabi Khidir.
Musa datang dengan akal kenabian dan adab bertanya.
Khidir menjawab dengan hati yang diberi ilmu ladunni.
Keduanya bertemu untuk satu tujuan: sampai kepada Allah.
(QS. Al-Kahfi: 66)
Allah memerintahkan kita:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah: 119)
Orang yang benar adalah mereka yang akalnya lurus dan hatinya bersih.
BEKAL PULANG
Wahai salik,
Jagalah akalmu agar tidak tersesat.
Jagalah hatimu agar tidak mati.
Karena kita tidak tahu kapan malaikat maut menjemput.
Yang pasti, kita harus siap.
Doa para arifbillah:
اَللّٰهُمَّ أَحْيِنَا بِالْعِلْمِ وَزَيِّنَّا بِالْحِلْمِ وَأَكْرِمْنَا بِالتَّقْوَى وَجَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ
“Ya Allah, hidupkan kami dengan ilmu, hiasi kami dengan santun, muliakan kami dengan takwa, dan cantikkan kami dengan afiat.”
Dan doa penutup setiap mukmin:
اَللّٰهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ
“Ya Allah, tutup usia kami dengan akhir yang baik.” 🤲 (*)








