Membelah Hutan, Membuka Jalan Ke Puncak Legend

Excavator Mengaum, Dzikir Menggema: Dua Perjuangan di Atas Bukit

BUMIAKTUAL, SITUBONDO – FIGHTING. Tidak mudah. Tidak pernah mudah.

Di atas ketinggian Puncak Legend, Selobanteng Kabupaten Situbondo Jawa Timur, mesin excavator meraung sejak pagi. Besi perkasa menghantam akar sebesar paha, menghancurkan batu sebesar rumah, dan menimbun jurang yang dulu menganga seperti rahang bumi.

Puluhan tahun warga lewat, lalu mundur. “Mustahil,” kata mereka. Hujan datang, jalan hilang. Matahari terik, tanah retak.

Tapi tahun 2026 ini, ceritanya berubah. Sekelompok manusia datang. Tidak bawa janji, tapi bawa cangkul, doa, dan luka. Mereka datang untuk satu nama: Pesantren Rahmatan Lil ‘Alamin di Puncak Legend.

“Jatuh itu biasa. Bangun itu wajib. Yang jadi soal, sejauh mana kau bertahan,” ujar salah satu pekerja sambil mengusap keringat. Rintangan, bagi mereka, hanya jadi pijakan. Lelah, hanya jadi saksi.

 

Dua Pekerjaan Agung Sekaligus

Hari ini, pekerjaan fisik berjalan. Punggung bukit dikeruk agar tak lagi mencekik leher pendaki. Jurang ditimbun agar tak lagi menelan harapan. Itu tangan besi membuka jalan.

Tapi 700 meter di atasnya, ada pekerjaan lain yang lebih senyap namun lebih dalam.

Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap, berdiri di atas bukit. Tidak pakai helm proyek. Pakai dzikir.

“Excavator membelah hutan. Suluk membelah kerasnya hati,” ucap beliau kepada para santri yang berkumpul.

Menurut Tuan Guru, membangun pesantren bukan sekadar menaikkan tembok dan tiang. “Ini tentang membangun benteng tauhid. Menancapkan Kalimatullah yang Maha Dahsyat di setiap jengkal tanah,” tegasnya.

Beliau mengutip QS. Ibrahim: 27: “Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.”

“Laa ilaaha illallaah” itu lebih berat dari gunung. Lebih tajam dari cangkul. Lebih kuat dari excavator. Karena ia bisa merobohkan berhala di dada dan meratakan kesyirikan di hati,” jelasnya.

Hadits Nabi SAW.  pun ia ingatkan: “Perbarui imanmu.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana?” Beliau menjawab, “Perbanyaklah mengucapkan Laa ilaaha illallaah.” HR. Ahmad no. 8719

 

Jihad Berjamaah: Ada yang Angkat Semen, Ada yang Angkat Dzikir

Tuan Guru menekankan, ini bukan kerja satu orang. Ini jihad berjamaah.

“Allah berfirman: ‘Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa’ QS. Al-Maidah: 2. Ada yang mengangkat semen, ada yang mengangkat dzikir. Ada yang meratakan jalan, ada yang meratakan hati. Semua satu barisan. Tujuannya satu: Islam Mulia Raya, Rahmatan Lil ‘Alamin,” katanya.

Ia mewanti-wanti: percuma jalan fisik terbuka jika jalan hati masih tertutup. Percuma hati terbuka jika jasad tak bisa sampai ke tempat dzikir.

“Hari ini, dua pekerjaan agung berjalan beriringan. Excavator membuka jalan ke puncak. Suluk membuka jalan ke Allah,” ujar Tuan Guru.

“Berat Melihat Penderitaanmu”

Dengan mata berkaca, Tuan Guru menyampaikan pesan untuk para santri: “Guru berat melihat penderitaanmu. Guru sangat menginginkan keimanan dan keselamatanmu di dunia dan akhirat.”

Beliau lalu membacakan QS. At-Taubah: 128: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu…”

“Hutan sudah dibelah. Jalan sudah dibuka. Tinggal satu langkah lagi: langkahmu,” ajaknya.

 

Tanggapan Humas Pesantren Lansia Situbondo

Upaya membangun Puncak Legend juga mendapat dukungan dari pemerintah desa Selobanteng dan pengurus pesantren. Salman Rudy, Humas Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan Lil Alamin, Desa Selobanteng, Kec. Banyuglugur, Kab. Situbondo, menyebut perjuangan ini sebagai “cermin satu barisan”.

“Kami di Selobanteng fokus membina lansia, merehabilitasi manusia dan alam dengan ruh Rahmatan Lil ‘Alamin. Melihat ikhtiar di Puncak Legend, kami yakin ini satu napas. Sama-sama mengembalikan manusia ke Allah, sama-sama memperbaiki bumi yang rusak,” ujar Salman Rudy saat dihubungi bumiaktual.com, Minggu 24/05/’26.

Menurutnya, rehabilitasi tidak cukup hanya fisik. “Kalau manusianya tidak direhab hatinya, alam juga tidak akan selamat. Makanya kami doakan penuh. Semoga Pondok Rahmatan Lil alamin, Puncak Legend jadi mercusuar tauhid, tempat lahirnya generasi yang cinta Allah dan cinta sesama,” tambahnya.

 

Tanggapan Kanwil Kemenag Jatim

Gerakan ini juga mendapat apresiasi dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. H. Imam Turmidi, S.Ag. M.HI., Kepala Bidang PD Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jatim, menyebut Puncak Legend sebagai model pesantren masa depan.

“Apa yang dilakukan Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap di Puncak Legend ini selaras dengan visi pesantren: membangun manusia, membangun peradaban, dan membangun alam. Ini bukan sekadar buka lahan, tapi buka jalan hidayah,” ujar H. Imam Turmidi, Minggu, 24/05/’26.

Ia menegaskan, Kementerian Agama Jatim akan terus mendorong sinergi antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat.

“Kalau ada yang angkat semen, ada yang angkat dzikir, negara hadir untuk menguatkan keduanya. Karena pesantren seperti ini adalah benteng terakhir moral bangsa. Semoga Pesantren Rahmatan Lil ‘Alamin di Puncak Legend menjadi laboratorium Islam yang rahmat, yang memuliakan manusia dan merawat alam,” tegasnya.

 

Ajakan Naik

Tuan Guru menutup dengan seruan: “Naiklah dengan cangkul di tangan kanan, dzikir di hati, tauhid di dada. Tancapkan Kalimatullah sedalam-dalamnya di Puncak Legend.”

“Sampai anak cucu kita nanti berkata: ‘Di sinilah, para pejuang tidak pernah mundur. Di sinilah, Kalimat Allah berdiri tegak selamanya.’”

Untuk pesantren. Untuk rahmat. Untuk Tuhan. Allahu Akbar! (usy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed