BUMIAKTUAL.COM, SITUBONDO – Dulu, hutan belantara itu bisu. Semak belukar setinggi dada, akar-akar tua menjerat, tebing curam menantang. Itulah satu-satunya jalan menuju Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan Lil ‘Alamin_ di Puncak Legend, Desa Selobanteng, Banyuglugur, Situbondo, Jawa Timur.
Dulu, hanya kaki berdarah dan punggung basah keringat yang berani menembusnya. Santri turun-naik seperti semut, memikul semen, membawa air, menggotong kayu. Ada yang jatuh. Ada yang pingsan. Ada yang pulang dengan lutut terkoyak. Tapi tidak ada satu pun yang pulang dengan iman terkoyak.
Karena mereka tahu, di ujung jalan itu menunggu sesuatu yang lebih tinggi dari puncak.
Puncak Legend Panorama yang membuat mata lupa menangis, udara sejuk yang menghidupkan paru-paru lelah, dan lingkungan pesantren yang damai, dihangatkan radiasi dzikir para santri yang istiqamah bersuluk.
Setiap malam, suara tasbih mereka naik bersama kabut. Dzikir itu menembus dedaunan, menembus batu, menembus langit. Hutan yang dulu angker, perlahan tunduk. Bumi yang dulu keras, perlahan melunak.
Excavator Datang, Mimpi Dijawab Langit*
Kini, raungan mesin excavator membelah hutan itu. Besi raksasa menggigit akar, menebas semak, meratakan tebing. Tanah bergetar. Debu naik seperti asap tanda kemenangan.
Pengerjaan akses jalan dikebut tanpa henti. Karena semua orang tahu: sebentar lagi mobil akan lewat. Sebentar lagi lansia tidak perlu dipikul. Sebentar lagi material bisa naik. Sebentar lagi, mimpi bisa terwujud.
Puluhan tahun mereka ditertawakan. “Ngapain bangun pesantren di atas gunung? Gila!”, namun mereka tetap kokoh karena yakin ada campur tangan Tuhan (Hand of God).
Puluhan tahun dihantam hujan, diterpa longsor, digigit nyamuk, dilumat sepi. Tapi mereka tidak pernah menjawab dengan kata. Mereka menjawab dengan sujud.
Setiap batu yang mereka angkat, adalah satu ayat yang mereka hafal. Setiap peluh yang jatuh, adalah satu doa yang mereka simpan. Mereka tidak membangun gedung. Mereka membangun sabar. Mereka tidak meratakan tanah. Mereka meratakan ego.
Dan ketika excavator itu datang, santri-santri muda itu menangis. Bukan karena lelahnya berakhir. Tapi karena akhirnya langit mengakui lelah mereka.
“Kami Tidak Minta Surga, Kami Minta Jalan”
Di tengah debu dan deru mesin, berdirilah Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap. Dengan mata basah, beliau mengangkat tangan dan berdoa:
“Ya Allah… inilah hamba-hamba-Mu. Mereka tidak minta surga. Mereka hanya minta jalan. Jadikanlah setiap jengkal jalan ini, jalan menuju-Mu.”
Doa itu naik. Excavator menggali. Dan hutan belantara yang dulu menutup, kini membuka dadanya.
“Ini bukan sekadar buka jalan fisik. Ini jihad,” tegas Tuan Guru kepada bumiaktual.com, Senin 25/05. “Excavator membelah hutan. Suluk membelah kerasnya hati. Kami ingin membuktikan, kalau Allah sudah ridha, yang mustahil pun akan terjadi!.”
“Ini Titik Awal Membangun Peradaban”
Salman Rudy, Humas Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan Lil Alamin, menyebut Puncak Legend sebagai titik awal peradaban baru di ujung barat Situbondo.
“Kami di puncak Legend, desa Selobanteng fokus merehab manusia dan alam dengan ruh Rahmatan Lil ‘Alamin. Melihat ikhtiar di Puncak Legend, kami yakin ini membangun peradaban,” ujar Salman Rudy saat dihubungi, Senin 25/05.
“Selama ini lansia harus ditandu naik-turun. Santri harus jalan kaki 3 jam bawa semen. Dengan jalan ini terbuka, insyaAllah misi kami makin luas. Puncak Legen akan jadi mercusuar tauhid, tempat lahirnya generasi yang cinta Allah dan cinta sesama,” tambahnya.
Menurut Rudy, rehabilitasi tidak cukup hanya fisik. “Kalau manusianya tidak direhab hatinya, alam juga tidak akan selamat. Makanya kami doakan penuh. Semoga dari perjuangan ini lahir peradaban baru.”
Mustahil Itu Tumbang
Mulai hari ini, Puncak Legend bukan lagi tempat tersembunyi. Ia akan didatangi banyak orang. Para pencari tenang. Para pencari sembuh. Para pencari Tuhan. Gunung Legend tidak lagi angker tetapi menjadi tempat yang dirindukan ummat manusia.
Dan semua itu dimulai dari keringat santri yang dulu tidak dianggap, dari dzikir yang dulu tidak terdengar, dari mimpi yang dulu disebut mustahil.
Hari ini, mustahil itu tumbang.
Lebih dulu dari pohon-pohon yang ditebang excavator. (rud/usy)




