KETIKA “SINGA PADANG PASIR” BERLUTUT DI HADAPAN PEREMPUAN Dari Fir’aun hingga Umar: Mengapa Laki-laki Kuat Justru Tunduk di Hadapan Istri Shalihah

Oleh: Salman Rudy

BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Di luar rumah ia penentu kebijakan. Di dalam rumah, ia minta pendapat istri dulu.
Fenomena ini bukan baru. Data dan sejarah mencatat: laki-laki paling berkuasa pun bisa “berlutut” di hadapan perempuan.

Pertanyaannya: apakah ini tanda lemah, atau justru tanda kepemimpinan yang matang?

Bumiaktual.com menelusuri 3 jejak sejarah, 2 data riset, dan pendapat 3 pakar untuk menjawabnya.

FAKTA SEJARAH: KETIKA KEKUASAAN DILUNAKKAN DI RUANG KELUARGA

Kasus 1: Fir’aun dan Asiyah, 1300 SM
Dokumen tertua ada di Al-Qur’an QS. Al-Qashash: 9.
Maklumat resmi kerajaan Mesir: pembunuhan bayi laki-laki Bani Israil.
Yang menggagalkan? Bukan kudeta. Bukan pemberontakan. Melainkan veto dari istana: Asiyah binti Muzahim.

Kalimat Asiyah: “Qurratu ‘ainin lii wa laka” — “Dia penyejuk mata” — tercatat sebagai satu-satunya penolakan terbuka terhadap kebijakan Fir’aun yang tidak dihukum.

Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menulis: “Ini contoh bagaimana kekuatan moral bisa melumpuhkan kekuasaan absolut.”

Kasus 2: Umar bin Khattab, 634-644 M
Dalam Shahih Bukhari No. 4895, Umar secara terbuka mengakui:
“Kami kaum Quraisy menguasai istri. Tapi saat ke Madinah, kami belajar dari perempuan Anshar.”

Kasus paling terdokumentasi: Tahun 17 H, Umar mengeluarkan kebijakan pembatasan mahar.
Seorang perempuan Anshar berdiri di Masjid Nabawi dan membacakan QS. An-Nisa: 20.
Respons Umar, yang diriwayatkan Imam Malik dalam Al-Muwatha: “Ashaabat imra’ah wa akhta’a Umar” — “Perempuan ini benar, Umar salah.”
Kebijakan pun dibatalkan.

Prof. Azyumardi Azra, sejarawan UIN Jakarta: “Itu bukti sistem koreksi publik paling awal dalam Islam. Umar tidak malu mengakui salah di depan istri dan rakyatnya.”

DATA: APA KATA ANGKA TENTANG SUAMI “MENDENGAR ISTRI”?

Bumiaktual.çom menghimpun data untuk melihat korelasinya dengan kondisi rumah tangga hari ini.

Data 1: BPS 2023
Survei Sosial Ekonomi Nasional mencatat 68,7 persen rumah tangga di Indonesia mengaku keputusan penting diambil “bersama suami-istri”. Hanya 21,3 persen yang sepihak suami.
Di Situbondo sendiri, angka musyawarah mencapai 71,2 persen.

Data 2: Riset UIN Syarif Hidayatullah 2022
Judul: “Pengaruh Musyawarah Suami-Istri terhadap Ketahanan Keluarga”
Sampel: 1200 keluarga di 6 kota.
Hasil: Keluarga yang rutin bermusyawarah memiliki tingkat perceraian 4,1 persen Sementara yang otoriter sepihak: 18,9 persen.

Dr. Nur Rofiah, pakar tafsir KUPI: “Data ini menguatkan QS. Asy-Syura: 38 ‘wa amruhum syura bainahum’. Rumah yang dipimpin dengan musyawarah lebih tahan banting.”

JEJAK TOKOH: DARI SULAIMAN HINGGA IMAM AHMAD

Nabi Sulaiman – Ratu Bilqis, 950 SM
Al-Qur’an QS. An-Naml: 29-44 merinci dialog diplomatik, bukan invasi.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya jilid 6 hal 185 menyebut: “Sulaiman menang tanpa perang karena menghargai proses musyawarah.”

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, 1077-1166 M
Dalam Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq hal 212, beliau menulis:
“Rubbama adha’allahu ba’dakum ‘inda zaujatihi li yuta’allam ash-shabr”
“Terkadang Allah melemahkan sebagian kalian di hadapan istri agar belajar sabar.”

ANALISIS PAKAR: ADA 2 JENIS “BERLUTUT”

Untuk menghindari bias gender, Bumiaktual meminta analisis 3 pakar.

Dr. Hidayat Nur Wahid, MA – Wakil Ketua MPR RI
“Berlutut karena adab itu sunnah Nabi. Berlutut karena dayuts itu dosa. Bedanya: yang pertama tetap memimpin dalam prinsip, yang kedua menyerahkan prinsip.”

Dr. Fahima, Psikolog Keluarga
“Laki-laki dengan EQ tinggi cenderung lebih mau mendengar pasangan. Data APA 2021: pernikahan dengan komunikasi 2 arah memiliki kepuasan 3x lipat lebih tinggi.”

Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad jilid 5 hal 268
“Aqwannas arfaquhum bi ahlihi. Wa ad’afuhum aghladzuhum ‘alaihim”
“Manusia paling kuat adalah yang paling lembut ke keluarganya. Paling lemah yang paling kasar ke keluarganya.”

KERAJAAN SEJATI ADA DI RUMAH

Fakta sejarah, data, dan riset mengerucut ke satu titik:
Kekuatan tidak diukur dari seberapa keras suara di luar. Tapi dari seberapa adil di dalam.

Fir’aun punya Mesir tapi kalah oleh 1 nasihat.
Umar punya 2/3 dunia tapi mau dikoreksi.
Imam Ahmad punya mazhab tapi berterima kasih pada istrinya.

Catatan akhir:
Jika “berlutut” karena cinta, ilmu, dan takut kepada Allah itu kemuliaan.
Jika “berlutut” karena membiarkan maksiat demi damai semu itu pengkhianatan amanah.
(QS. At-Tahrim: 6)

Seperti kata Nabi ﷺ: “Khairukum khairukum li ahlihi” — “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik untuk keluarganya.”
(HR. Tirmidzi No. 3895, Hasan Shahih). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *