BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Jelang bulan suro atau tahun baru Islam dalam kalender Jawa, sejumlah koleksi kolektor benda-benda pusaka dibersihkan. Pembersihannya tak sembarangan. Sebelumnya keris dibacakan doa, serta dimandikan dengan air kelapa muda, lengkap dengan bunga tujuh rupa.
Setidaknya, ada ratusan keris jaman kerajaan masa lampau yang akan dibersihkan. Pembersihan ini memang dijadwalkan tepat pada satu suro. Lukman Hakim, anggota dari lembaga seniman budayawan muslim Indonesia (Lesbumi) menjelaskan, pencucian saat bulan satu suro dipercaya bisa meningkatkan aura dari keris tersendiri. “Agar benda pusaka kembali bersih dan haddam yang ada di dalam kembali fresh,” kata pria yang sering disapa Hakim, Rabu (18/08/2020).
Pembersian keris pusaka biasanya disebut jamasan untuk masyarakat jawa. Tujuannya utama untuk membersihkan kembali agar tetap terawat secara fisik. “Ini adalah tradisi masyarakat nusantara. Kami akan tetap melestarikan budaya ini agar tetap bisa dikenal dengan generasi selanjutnya,” imbuh jelas Hakim.
Tak hanya dibersikan saja. Benda pusaka itu juga direndam dengan air kelapa muda dan bunga tujuh rupa. Agar karatan pada logam kembali bersih. Bahkan, juga diberi minyak wangi khusus, agar memancarkan aroma sedap. “Didoakan juga, agar benda tersebut membawa kemaslahatan kepada pemegang dan masyarakat sekitar,” tutup Hakim.
Sementara itu, Sudi Wardoyo, salah satu pengoleksi keris di Kota Santri menjelaskan, dirinya sengaja mengajak Lesbumi Situbondo untuk membantu proses tradisi pencucian keris. Sebab, jika dikerjakan sendirian, dirinya mengaku kesulitan. “Saya punya ratusan keris, kalau dikerjakan sendiri akan memakan waktu lama,” imbuhnya.
Sudi juga menjelaskan, ada keris yang paling berkesan kepada dirinya. Yaitu keris Dapur Buto Ijo. Ia mengaku keris itu dibuat oleh empu supoh untuk Prabuwijaya V. “Ini dibuat sekitar abad pertengahan 15,” jelasnya sambil menunjukkan benda pusaka miliknya.
Sudi sudah mengoleksi berbagai macam keris sejak puluhan tahun silam. Salah satu alasannya, setiap keris menceritakan cerita yang menarik di dalamnya. “Saat masa peperangan kemerdekaan juga digunakan,” tutup Sudi. (dra/usy)








