BUMIAKTUAL,SITUBONDO– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo terus melakukan pemantauan terkait keberadaan masyarakat Situbondo yang berada di Negeri China. Untuk sementara, diketahui ada empat orang yang berada di negeri Tirai bambu tersebut. Mereka sedang menimba ilmu.
Seperti yang dilakukan Wakil Bupati Situbondo, Yoyok Mulyadi, Rabu (29/01/2020) yang mendatangi rumah Virda Amelia Agustin (21) di Dusun Krajan Selatan, Desa Balung, Kecamatan Kendit. Dia menanyakan langsung kondisi mahasiswi yang sedang berada di China itu melalui layanan video call.
Orang nomor dua di Pemkab Situbondo tersebut bertatap muka langsung di layar telepon Pintar. Virda sendiri sedang berada di Kota Xiamen, China. Dengan cara ini, Wabub Yoyok mencoba benar-benar memastikan bahwa masyarakatnya yang sedang berada di luar negeri dalam kondisi baik-baik saja.
“Saya sudah video call, dan ternyata kondisinya sedang sehat dan melaksanakan kegiatan belajar seperti biasa. Meskipun Xiamen jauh dengan Wuhan, tapi kita harus mendeteksi warga kita dengan baik. Sebab, itu tanggung jawab kami, jika nanti sudah kembali ke Indonesia,” ujar Yoyok Mulyadi, Rabu (29/01/2020).
Kata Wabup, Pemkab Situbondo nantinya akan terus mencari keberadaan masyarakat yang berada di China. Tujuannya, untuk menjamin bahwa masyarakat Situbondo bisa hidup dengan aman dan adil. “Saya memerintahkan para Camat untuk mendata seluruh warganya yang berada di luar negeri, khususnya yang berada di China,” sambungnya.
Keempat mahasiswa asal Situbondo yang berada di China mendapatkan beasiswa. Namun, tiga di antaranya sudah pulang ke kampung halamannya sejak 6 Januari 2020 lalu. Kini hanya tinggal Virda yang berada di China.
Putri Pasangan Siti Nur Cahya dan Fauzi berangkat ke China untuk menimba ilmu di Huaqiao University sejak 2016 lalu. Virda mendapat beasiswa. Kini sudah memasuki semester akhir. “Anak saya akan pulang 31 Januari 2020, sudah pesan tiket pesawat,” ujar Siti Nur Cahya.
Untuk pembelian tiket pesawat pun, diakui ada kenaikan biaya yang cukup tinggi hingga dua kali lipat. “Dari harga Rp 2 juta, sekarang menjadi Rp 4 juta, tapi tetap beli karena ada kebijakan dari kampus boleh kembali ke negaranya masing-masing,” bebernya.
Diinformasikan sebelumnya, pemerintah China mencatat ada 137 orang meninggal dunia akibat Virus Corona. Sedangkan jumlah warga yang terinfeksi mencapai 6.000 orang. Mayoritas berasal dari Kota Wuhan di provinsi Hubei, yang merupakan sumber penyebaran virus mematikan itu. (dra/usy)














