BUMIAKTUAL,SITUBONDO – Puluhan warga memprotes pembangunan tambak udang di Dusun Karanganyar, Desa Tanjung Pecinan, Kecamatan Mangaran, Kamis (13/02/2020). Bahkan, warga sekitar langsung menutup akses jalan dengan cara memasang kayu agar tak bisa dilewati dump truk yang akan mengangkut material ke lokasi tambak.
Ririman, salah satu toko masyarakat setempat menjelaskan aksi protes ini bukan pertama kalinya. Melainkan sudah puncak kekesalan warga. Selama ini mereka melakukan protes, namun tak pernah mendapat tanggapan. “Sudah lebih dari tiga kali proses, tapi tidak ada respon sama sekali,” ujar Ririman,
Data yang diperoleh bumiaktual.com, warga menolak pembangunan tambak udang karena dinilai berdampak terhadap pencemaran lingkungan. Bahkan, ada sekitar 40 KK terdampak pencemaran limbah tambak. Selama ini mereka juga tak pernah mendapat konpensasi. Akibat lainnya, matinya ikan-ikan di tambak tradisonal.
Ririman menjelaskan, setidaknya ada tiga hektare areal persawahan akan dijadikan tambak udang. Lokasinya berdekatan dengan perumahan warga dan sekolah. “Kabarnya, rencana pembangunan tambak milik seorang pengusaha asal Kabupaten Banyuwangi,” bebernya.
Menjurut dia, pengusaha tambak tersebut sudah memiliki tambak seluas 10 hektare. Setiap panen pembuangan limbah tambak mencemari lingkungan. Menimbulkan bau tak sedap. “Limbah juga menyebabkan ikan di areal tambak tradisional milik warga mati,” sambungnya.
Tak hanya dikeluhkan warga di lingkungan tambak, keberadaan limbah tambak juga mengganggu aktifitas belajar siswa di sekolah. Setiap kali panen, limbah tambak menimbulkan bau menyengat selama tiga sampai empat hari.
Kepala Sekolah Madrasah Ibtida’iyah Negeri (MIN) 3 Situbondo, Umi Mahmudah menerangkan, bau limbah tambak sangat menggangu aktifitas di sekolahnya. Bahkan, ada beberapa siswa terpaksa di pulangkan karena mengalami mual-mual di sekolah. “Itu jelas mengganggu proses belajar mengajar,” katanya.
Lebih jauh, untuk menghindari bau tidak sedap, para guru dan murid terpaksa belajar di area terbuka, seperti taman sekolah. “Pihak sekolah berharap agar pengusaha tambak memiliki instalasi pengolahan limbah sehingga tak menimbulkan bau maupun mencemari linkungan,” pungkasnya. (dra/usy)








