BUMIAKTUAL,SITUBONDO – Mulai langka dan mahalnya antiseptik pembersih tangan atau hand sanitizer di pasaran membuat sejumlah dosen dan mahasiswi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibrahimy Sukorejo memproduksinya sendiri. Meski begitu, mahasiswi saat ini terkendala dengan tidak mudahnya mendapatkan bahan pokok. Sehingga, mereka hanya bisa memproduksi 300 botol perhari.
Dosen Program Studi Farmasi Universitas Ibrahimy Sukorejo, Sri Nuratika menjelaskan bahan pokok cuci tangan tanpa bilas ini sudah mulai susah didapatkan. Di antanya adalah Gliserol, Entanol, Aqudest steril. “Akibatnya kita hanya bisa memproduksi 300 botol perhari. Padahal jika ada bahan, kita siap memproduksi seribu botol perhari,” kata wanita berjilbab itu, Jumat (20/03/2020).
Kata dia, cairan anti septik itu, dikemas dengan ukuran 100 ml. Agar botol mudah dibawa saat bepergian. Hingga saat ini, sementara hanya digunakan di kawasan Ponpes saja. Karena mengingat ada sekitar 14 ribu santri aktif yang sedang melakukan proses belajar mengajar. “Tidak diperjualbelikan. Saat ini digunakan sendiri,” bebernya.
Sri Nuratika menjelaskan, pembuatan cairan anti Virus Corona ini dikerjakan di ruangan laboratorium Mikrobiologi milik Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. “Semua bahan yang kami buat sudah sesuai dengan standart BPOM,” ujarnya.
Kata dia, cairan ini diformulasikan untuk cairan antiseptik. Serta, juga bisa dipakai di area kulit tangan yang berfungsi untuk membunuh mikroba gram positif dan negatif. “Cairan ini dapat memberikan perlindungan dan pencegahan terhadap mikroba berbahaya,” pungkasnya. (dra/usy)








