Kena Dampak Korona dan Cuaca, Petani Melon di Situbondo Merana

BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Nasib para petani melon di Situbondo tak seindah tahun lalu. Selain karena dampak pandemi Covid-19, faktor cuaca juga mempengaruhi hasil panen. Saleh, salah satu petani melon asal Desa Juglangan, Kecamatan Panji menjelaskan, pada tahun ini ada penurunan produksi sekitar 60 persen. “Biasanya tiga petak panen 55 ton. Sekarang hanya 20 ton,” kata Saleh, Jumat (08/05/2020).

Kata dia, penurunan hasil panen dikarenakan faktor cuaca. Sebab, dalam beberapa bulan terakhir sinar matahari di Kota Santri sangat terik. “Selain hasil sedikit, penjualan juga hanya di pasar lokal,” terangnya.

Saleh menambahkan, dirinya hanya dapat menjual buah buahannya di Kabupaten tetangga, seperti Bondowoso, Jember, Pasuruan. Sebab, beberapa kota besar menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). “Surabaya dan Jakarta sudah ditutup. Jadi tidak bisa jual ke sana lagi,” terangnya.

Kata dia, akibat penjualan di pasaran lokal, membuat harga tidak semahal di kota besar. Saleh merinci, saat ini harga melon di tengkulak berkisar Rp 5.500. Sedangkan tahun lalu sampai menyentuh harga Rp 7.000. “Kalau masuk di kota besar bisa sampai Rp 8.000 – Rp 10.000. Itu semua tergantung kategori kualitas,” pungkasnya. (dra/usy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *