BUMIAKTUAL,SITUBONDO – Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto menanggapi maraknya tebu Kota Santri yang dijual ke luar daerah oleh para petani tebu. Terkait itu, Bupati Dadang berjanji akan mempertemukan manajemen pabrik gula (PG) dengan petani tebu.
Bupati mengaku telah memberikan dukungan agar tebu Situbondo tidak dijual ke luar daerah. Salah satu caranya dengan menolak permintaan pabrik gula di luar daerah yang akan membeli tebu Situbondo. “Saya sudah menolak permintaan PG di luar daerah. Kalau harus membuat surat keputusan (SK), ya gak bisa,” ujar Bupati dua periode itu, Jumat (26/06/2020).
Kata dia, sudah terjadi pertemuan antara petani dan manajemen PG sekitar dua bulan lalu. Tetapi nampaknya, masih belum menemukan jalan keluar. Dadang berjanji, pada pertemuan berikutnya, akan membahas secara detil, upaya pengendalian agar tebu tidak keluar daerah.
“TNI/Polri juga ikut berperan agar bisa mengendalikan tebu di Situbondo. Dan untuk mengendalikan ini, tentunya butuh biaya operasional, ini yang akan kita bahas pada pertemuan lanjutan antara petani dengan PG,” beber Bupati.
Bupati Dadang mengatakan, merupakan hal yang wajar ketika para petani menjual tebu keluar daerah dengan harga yang lebih tinggi. Inilah tantangan yang harus dihadapi dan diatasi bersama-sama. “Ketika ada permintaan tebu dari luar kota dan dipenuhi oleh petani, yang pasti tidak akan ada kerugian di situ,” katanya.
Diberitakan sebelumnya. Ratusan karyawan musiman PG Olean, Situbondo, mendatangi PG Olean. Mereka mempertanyakan kapan akan ada aktivitas giling tebu.
Di sisi lain, PG Olean menegaskan bahwa untuk sementara bahan baku tebu tidak mencukupi untuk dilakukan aktivitas giling. Karena sekali giling, dibutuhkan 135 ribu ton tebu. Sedangkan yang tersedia sekitar 60 ribu ton. Jika dipaksakan, maka PG akan merugi hingga Rp19 miliar. (dra/usy)














