BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Sejumlah supir banting setir untuk berjualan alat kesehatan. Hal itu dipilih karena sepinya penumpang dimasa pandemi Covid-19. Ditambah, harga setoran dari perusahaan tetap dipatok harga normal
Muhammad Saufik, salah satu supir di angkutan umum antar kota menjelaskan, dirinya sengaja tak lagi bekerja di jasa transportasi. Karena lebih memilih untuk menjual face shiled atau alat pelindung wajah. “Sekarang musim Korona, jadi mending jualan ini dari pada nyupir bus,” kata dia saat ditemui area kawasan Alun-alun Kota Santri, Jumat (17/07/2020).
Pria 37 tahun itu mengaku telah berjualan perlengkapan penutup wajah sejak sebulan terakhir. Omset yang dia peroleh setiap harinya bisa mencapai Rp 100 ribu. “Harganya ada yang Rp 15 ribu – 20 ribu. Sehari bisa laku kisaran 20 biji,” jelasnya saat ditemui wartawan Bumiaktual.
Saufik menceritakan, penurunan penumpang di masa pandemi sangat nyata. Sebab, penumpang enggan naik angkutan umum karena takut tertular Virus Korona. Meskipun telah ada aturan pengurangan penumpang. “Penumpang tak ada, setoran tetap. Rugi kalau tetap maksa nyupir,” kata ayah satu anak itu.
Dia dan beberapa temannya memilih untuk tak lagi mengemudikan kendaraan bus sampai waktu yang tidak ditentukan. Sebab, jika tetap bekerja, setoran Rp 800 ribu harus dia penuhi di satu kali operasi. Itu masih belum biaya solar sekitar Rp 700 ribu. “Rute saya Bondowoso, Surabaya. Tapi belum hingga sekarang belum tahu kapan saya mau nyupir lagi,” imbuh Saufik.
Sementara itu, Matheru seorang supir truk juga melakukan hal yang sama. Dirinya juga memilih menjual perlengkapan kesehatan. Ia mengaku telah berjualan masker sejak sebulan yang lalu. “Saat ini sudah sepi mas, tak seperti bulan lalu,” jelasnya.
Sebelum pandemi ini, dia bekerja sebagai supir truk pengangkut material. Karena tak ada proyek yang jalan, terpaksa dia harus mencari pekerjaan lain. “Awalnya saya liat teman saja jual masker, hingga sampai sekarang jual sendiri,” tutup Matheru. (dra/usy)








