Ketika Senyum Menjadi Mantra: Kisah di Balik “Mesem” dari Nusantara Rythem

BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Tak ada panggung mewah atau sorotan lampu warna-warni. Tapi, di sebuah ruang komunitas sederhana bernama Dua Belas Space di Situbondo, suara musik dan percakapan hangat menyatu dalam satu momen yang membekas: peluncuran karya musik bertajuk Mesem.

Dibawakan oleh Ali Gardy, komposer sekaligus penggagas Nusantara Rythem, Mesem bukan sekedar lagu. Ia lahir dari perenungan tentang keterbatasan indera dan kekuatan rasa.

“Kita sering menganggap mendengar, melihat, atau berjalan sebagai hal biasa. Tapi saya mulai sadar, tidak semua orang punya kemudahan yang sama,” ujar Ali Gardy membuka diskusi, Jumat (25/4/2025).

Karya ini tercipta dalam kolaborasi bersama PPDIS (Pelapor Peduli Disabilitas Situbondo). MV Mesem sendiri menjadi inti dari acara Naskah dan Proses Kreatif, yang juga menjadi ajang peluncuran album musik eksperimental Stilasi, kolaborasi Ali bersama musisi Indradhanu.

Ali Gardy tak banyak bermain metafora. Ia jujur, bahwa Mesem berangkat dari hal sederhana: yaitu artinya senyum.  “Saya percaya senyum itu mantra. Ia bisa hadir bahkan tanpa suara. Ia bisa menjangkau siapa pun,” katanya.

Menurut Ali Gardy, teman tuli punya bahasa tangan, teman netra meraba dan mengingat, teman difabel fisik punya cara sendiri untuk bergerak. “Tapi semua itu tidak menghalangi mereka untuk tersenyum dan menyampaikan perasaan. Di situlah saya belajar tentang bahasa universal,” bebernya.

Dalam ruang kecil itu, sekitar 20 peserta hadir beberapa peserta termasuk difabel. Mereka duduk tak berjarak. Tak ada formalitas yang membatasi. Diskusi mengalir, pertunjukan diputar, dan senyum muncul tanpa disadari.

Hadir pula Rendra Agusta, peneliti naskah kuno, yang mengangkat perspektif berbeda. Ia menunjukkan bagaimana nilai inklusivitas sudah terekam dalam sejarah dan budaya lama di Nusantara dan bagaimana karya seperti Mesem menjadi kelanjutannya hari ini.

Yang paling membekas dari pertemuan itu bukanlah nada, lirik, atau susunan instrumen yang rumit. Tapi satu kalimat dari Ali yang terucap. “Kami tidak sedang berkarya untuk mereka. Kami ingin berkarya bersama mereka. Dan menjadi teman,” ucapnya sambil tersenyum.

‘Mesem’ tak hanya menjadi musik. Ia menjadi jembatan antara dunia yang sering dianggap ‘normal’, dan dunia yang tak kalah indah di balik keterbatasan. Dan seperti senyum, ia tak perlu dijelaskan panjang lebar untuk bisa dipahami siapa saja. (dra/usy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *