BUMI AKTUAL, SITUBONDO – Sejak dilaunching 19 Mei 2025, Program Siaran Elektronik Moderasi Beragama (SEMOGA) di Kabupaten Situbondo semakin mendapat respon positif dari sejumlah kalangan. Program ini dinilai sebagai kanal strategis dalam menyuarakan nilai-nilai moderasi beragama secara masif melalui media elektronik dan digital. Apalagi Situbondo memang memiliki masa lalu yang kelam tentang kerukunan umat beragama. Yakni, peristiswa kerusuhan 10 Oktober 1996 yang berujung pada pembakaran gereja dan fasilitas umum lainnya di Kota Santri.
SEMOGA menjadi langkah nyata yang dimotori Kemenag Situbondo, untuk bersama-sama menuju terciptanya kerukunan umat beragama yang berkelanjutan. Siaran SEMOGA didistribusikan melalui berbagai plat form media sosial (medsos) populer ke tengah-tengah masyarakat. Misalnya, Tik-Tok, You Tube, Instagram, Facebook. Pesan-pesan tersebut bisa berupa gambar, teks atau video pendek yang dinilai lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Dengan demikian, SEMOGA diharapkan tidak hanya menjadi media penyampaian pesan-pesan kebangsaan dan keagamaan yang menyejukkan di tengah-tengah masyarakat Situbondo. Tetapi, juga menjadi cerminan wajah moderasi yang dibangun bersama di Situbondo. Yakni, wajah yang inklusif, damai, dan menghargai keberagaman.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Zeiniye menerangkan bahwa moderasi beragama merupakan tanggung jawab bersama. Sehingga, langkah Kemenag Kabupaten Situbondo yang berkolaborasi dengan sejumlah pihak, mulai dari institusi ekskutif, legislatif, organisasi kemasyarakatan maupun keagamaan, lembaga pendidikan maupun media adalah langkah yang sangat tepat.
“Sehingga, ini kemudian menjadi gerakan bersama untuk memelihara moderasi beragama. Sehingga tercipta keadaan kondusifitas di Kabupaten Situbondo. Ke depan semua kalangan diharapkan bisa meluaskan stake holder untuk makin menggelorakan program SEMOGA,” ungkapnya.
Sebagai anggota DPRD Provinsi Jatim, Zeiniye menegaskan siap bersinergi dengan Kantor Kemenag Situbondo. Apalagi di DPRD Provinsi Jatim memang ada program yang terkait dengan moderasi beragama.
Bupati Situbondo, Yusuf wahyu Rio Prayogo menegaskan pentingnya penguatan kerukunan umat beragam di Kabupaten Situbondo yang harus terus dijaga dan dipelihara selamanya. “Makanya saya mendukung program SEMOGA sebagai aksi perubahan yang dilakukan Kemenag Situbondo, dengan memanfaatkan platform digital,” katanya.
Hal senada Pendeta Martin, Ketua MUKI Situbondo juga menyampaikan hal yang sama. “Kerukunan umat beragama menjadi sebuah kebutuhan bagi bangsa ini, termasuk masyarakat Situbondo. Makanya Program SEMOGA ini bagi saya harus didukung bersama,” imbuhnya.

Direktur Radio Bhasa FM, Fajri menerangkan bahwa sebagai radio komunitas yang telah lama hadir di tengah masyarakat Situbondo, Bhāsa FM senantiasa menjunjung tinggi kode etik penyiaran. Salah satu di antaranya adalah prinsip moderasi beragama.
“Prinsip ini sejalan dengan visi kami untuk menjadi media yang menyejukkan, inklusif, dan mengedukasi. Kami sadar bahwa radio tidak hanya menyampaikan suara, tapi juga memengaruhi cara pandang dan sikap masyarakat,” tegasnya.
Perempuan berjilbab tersebut optimistis bahwa kekuatan media lokal adalah kedekatannya dengan masyarakat. Maka ketika pesan moderasi disampaikan lewat suara yang akrab di telinga pendengar, maka potensi pesan itu sampai, akan lebih mengena dan berdampak. “Ke depan, kami tetap berkomitmen menjadi mitra strategis Kementerian Agama dan seluruh unsur pemerintah daerah dalam menyemai nilai-nilai moderat dan toleran di tengah masyarakat,” imbuhnya.

menunjukkan naskah kerjasama, kemarin.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Pemkab Situbondo, Buchari memandang bahwa upaya moderasi beragama bukan hanya menjadi tanggung jawab Kantor Kemenag. Namun, juga merupakan bagian dari tugas dan fungsi kelembagaan Kesbanglinmas. “Moderasi beragama adalah bagian penting dari upaya menjaga stabilitas, memperkuat ketahanan sosial, dan membina kehidupan masyarakat yang rukun dan harmonis,” tegasnya.
Buchari menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor ini bukan hanya penting, tapi juga mutlak dibutuhkan agar semangat moderasi beragama dapat diinternalisasikan secara menyeluruh dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Apalagi di tengah dinamika sosial yang cepat berubah. “Kita harus hadir bersama, tidak berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya. (dra/usy)








