Pak Jajuli Dan Rehabilitasi Model Langit, Saat Lansia Bukan Lagi Objek Belas Kasihan 

Oleh:  Salman Rudy

BIMIAKTUAL, SITUBONDO —  “Selama 20 tahun jadi wartawan. Liput konflik, bencana, politik. Tapi baru kali ini saya malu.”

Kalimat itu keluar dari mulut seorang jurnalis di teras Pondok Pesantren Lansia Puncak Legend, Selobanteng, Situbondo.

Malu. Karena selama ini ia salah menulis judul: “Lansia Butuh Bantuan”.

Di Puncak Legend, ia melihat kebalikannya.

Dunia-lah yang butuh bantuan Pak Jajuli. Lelaki yang dulu pernah direhabilitasi, kini justru menjadi guru bagi kemanusiaan kita.

“Ini Tanah Allah. Ini Rumahku”

Pukul 05.30 pagi. Kabut masih menggantung di lereng puncak legend. Dari kejauhan terdengar suara cangkul menghantam tanah.

Itu Pak Jajuli, 72 tahun, asal Majalengka Jawa Barat. Punggungnya bungkuk. Lututnya sudah tidak sekuat dulu. Tapi tangannya tidak berhenti.

Ia tinggal di bedeng sederhana bersama belasan santri lansia lain. Ia bukan orang baru di sini. Pak Jajuli adalah mantan orang rehabilitasi di pesantren ini. Dan sejak hari itu, seluruh hidupnya diabdikan untuk pesantren. Ditawari pulang ke Majalengka, ia enggan. Katanya, lebih tenang hidupnya diabdikan untuk pesantren. Di bawah arahan Tuan Guru Sayyidi Sekh Moh Sazli Harahap, Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam, Rahmatan lil Alamin, Puncak Legend tidak menyediakan kursi roda di teras. Yang ada bibit bunga, bibit pohon palm, pacul, dan surau yang lampunya dari energi tenaga surya masih menyala.

Sambil menunjuk gundukan tanah yang ia garap, Pak Jajuli berkata pelan. Tapi kata-katanya menampar:

“Ini tanah Allah. Ini rumahku.”

“Rumah” yang dulu mungkin pernah “memperkosanya”. Memeras tenaganya saat muda di sawah orang, lalu membuangnya saat ia renta.

Kini di usia senja, ia merebut kembali martabatnya sebagai pemilik. Bukan pasien. Bukan beban.

Ia dan kawan-kawannya berjuang seperti prajurit. Musuhnya bukan negara lain. Musuhnya adalah vonis: “Sudah Tua, Sudah Tidak Berguna”.

Ibadah Tidak Ada Masa Pensiun

Bagi Pak Jajuli dan kawan-kawan, hidup di Puncak Legend dimulai jam 3 pagi. Tahajud. Zikir. Lalu ke kebun.

Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang menggaji. Karena ini bukan tempat singgah. Ini rumah yang ia jaga seumur hidupnya.

Ketika ditanya wartawan tadi, “Pak, kenapa masih kuat?”, jawab Pak Jajuli hanya satu kalimat:

“Aksimu Adalah Buktimu.”

Bukti bahwa ia belum selesai.

Bukti bahwa tua bukan garis finish.

Bukti bahwa di “rumah Allah” ini, lansia bukan untuk dikasihani. Lansia untuk diteladani.

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” QS. Adz-Dzariyat: 56

Bagi Pak Jajuli, ayat itu literal bukan kata kias. Selama nafas masih ada, cangkul masih harus bergerak. Selama jantung masih berdetak, sajadah masih harus digelar.

Rasulullah SAW juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya” HR. Tirmidzi No. 2329 – Shahih

Di usia 72, Pak Jajuli memilih “baik amalnya” dengan cara paling nyata: menanam pohon, membersihkan surau tempat sujud untuk bertaubat, dan menjaga pesantren sebagai tempat menimba ilmu agama. Itulah bentuk pengabdiannya yang tidak pernah putus.

Allah kembali mengingatkan:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu” QS. At-Taubah: 105

Yang Direhabilitasi Bukan Pak Jajuli

“Dan ‘bukti’ itu menampar semua definisi ‘tua’ yang selama 20 tahun saya tulis di koran,” kata sang jurnalis. “Saya wartawan. Kerja saya menulis. Tapi hari ini, Pak Jajulilah yang menulis saya.”

Di akhir kunjungannya, ia mengurungkan niat menulis “kasihanilah para lansia”.

Ia menggantinya dengan: “Belajarlah dari Pak Jajuli.”

Karena setelah bertemu lelaki 72 tahun dengan cangkul di tangan dan tasbih di saku itu, ia sadar:

Yang Butuh Direhabilitasi Bukan Pak Jajuli, tapi cara kita memandang usia senja. Justru Pak Jajulilah bukti nyata hasil rehabilitasi model langit.

Kami datang membawa kamera untuk meliput “korban”. Kami pulang membawa malu karena yang kami temui adalah “Guru”. Mungkin Puncak Legend bukan tempat merehabilitasi lansia. Ia adalah tempat merehabilitasi kemanusiaan kita. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *