BUMIAKTUAL – Di atas bumi Selobanteng…
Angin menangis.
Tanah bersaksi.
Dan langit menunduk, menyaksikan sekelompok manusia yang menjual dirinya kepada Allah.
Mereka bukan tentara.
Tapi mereka Prajurit Langit.
Tidak berseragam, tapi bertasbih.
Tidak bersenjata, tapi bertawakal.
Siang mereka peras keringat.
Malam mereka peras air mata.
Bahu mereka banting tulang.
Dada mereka banting ego.
Tujuannya hanya satu:
MENEGAKKAN KALIMATULLAH.
Membelah jurang dengan iman.
Membangun jalan menuju Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan lil ‘Alamin di Puncak Legend.
Lihatlah!
Telapak tangan mereka robek. Dihantam batu.
Punggung mereka bungkuk. Dipikul beban yang bukan untuk dunia.
Perut mereka lapar. Karena bekal dibagi untuk teman.
Tidur mereka sebentar. Karena sepertiga malam dipakai untuk sujud.
Tidak ada gaji.
Tidak ada upah.
Yang ada hanya satu kalimat yang mereka ulang:
“Allah… Allah.. Allah…”
Allah berfirman dan menggetarkan dada mereka:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” > (QS. At-Taubah: 111)
Mereka tidak sedang membangun jalan.
Mereka sedang menjual diri kepada Allah.
Lunas. Tunai. Dengan keringat.
Nabi ﷺ bersabda dan menusuk kalbu mereka:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian” (HR. Muslim)
Maka mereka bekerja.
Sebagai pemilik… pemilik pesantren yang sedang mereka bangun.
Sebagai pengabdi… mengabdi untuk pesantren tempat sujud dan bertaubat.
Sebagai prajurit… yang cangkulnya adalah pedang, semangatnya adalah tameng, dzikirnya adalah peluru.
Bagi mereka,
Mengangkat batu = bertasbih.
Mengangkat besi = bertahlil.
Wahai saudaraku…
Jalan ini bukan jalan biasa.
Ini Shirath dunia.
Tajam. Terjal. Licin.
Setiap meternya dibayar dengan darah.
Setiap jengkalnya disiram dengan air mata taubat.
Jika suatu hari kau melintas di atasnya dengan mudah,
ingatlah…
Di bawah kakimu ada sisa keringat para wali.
Di setiap sudutnya ada doa para pendosa yang ingin pulang.
Ya Allah…
Terimalah lelah mereka.
Jadikan setiap cangkul menghantam tanah, setiap ikat besi, setiap tetes keringat ini
saksi bahwa pernah ada manusia yang banting tulang, demi memudahkan jalan hamba-Mu menuju-Mu.
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan ke surga”. (HR. Muslim)
Untuk para Prajurit Langit.
Untuk mereka yang mengorbankan dunia, demi membeli satu senyum Allah di akhirat.
Wahai Puncak Legend…
Kelak ketika kami sudah tiada,
biarlah jalan ini yang berdzikir menggantikan qolbu kami.
Biarlah setiap tapak kaki santri di atasnya
menjadi pahala yang terus mengalir untuk nama kami.
Ya Allah… jadikan kami mati di jalan ini.
Jalan yang Kau ridhoi. Jalan yang Kau cintai.
Jalan pulang. (*)










