BUMIAKTUAL.COM, SITUBONDO – Angin puncak Legend malam itu dinginnya menusuk tulang.
Di beranda surau kecil, kami duduk di atas tikar pandan. Hanya ada lampu solar cell yang remang, dua cangkir teh jahe, dan keheningan yang menenangkan.
Saya: “Tuan Guru…”
Saya menyodorkan teh. Tangan saya masih gemetar.
Saya: “Izinkan saya jujur? Saya lelah Tuan Guru.”
“Lelah melihat saudara-saudara kita. Shalatnya jalan, puasanya jalan, tapi dadanya tetap sesak.”
“Buka HP isinya berita perang Timur tengah. Gaza, Palestina, Iran. Darah semua.”
“Lalu mereka bertanya kepada saya: ‘Rudy, katanya Islam rahmat. Mana rahmatnya?’”
“Saya diam Tuan Guru. Saya tidak tahu harus menjawab apa.”
“Apalagi melihat orang yang jauh dari Tuhan, hidupnya tampak tenang, rezekinya lancar. Sementara kita yang bertahajud, hidup pas-pasan.”
“Jujur Tuan Guru… kadang hati ini goyah.”
Tuan Guru menatap saya. Lama.
Cahaya remang dari lampu solar memantul di baju putih beliau.
Tuan Guru: “Rudy…”
Beliau menepuk pundak saya pelan.
“Itu karena engkau dan mereka, hanya mencicipi kulitnya Islam. Belum pernah sampai ke isinya.”
Saya: “Maksud Tuan Guru?”
Tuan Guru: Beliau mengambil sebiji kelapa.
“Lihat ini. Apa yang kau lihat?”
Saya: “Sabut Tuan Guru. Kasar dan keras.”
Tuan Guru: “Betul. Sabut ini namanya Syariat. Shalat, puasa, zakat. Ia penting. Ia perisai. Tanpa sabut, air di dalamnya akan pecah.”
Beliau memecah kelapa itu. Airnya jernih mengalir ke batok.
“Dan ini airnya. Jernih dan manis. Ini namanya Tarekat. Rasa. Dzikir. Cinta. Kedekatan dengan Allah.”
“Masalahnya, banyak hari ini yang memeluk sabut, lalu menyangka sudah memeluk seluruh kelapa. Hauslah mereka. Kecewalah mereka.”
Saya mengangguk. Mulai terang.
Saya: “Jadi Tuan Guru, Islam harus dengan dua-duanya?”
Tuan Guru: “Ya, Rudy. Islam itu burung.”
“Sayap kanan: Syariat. Sayap kiri: Tarekat.”
“Coba terbang dengan satu sayap. Apa yang terjadi?”
Saya: “Jatuh Tuan Guru.”
Tuan Guru: “Nah. Makanya banyak yang jatuh. Lalu menyalahkan agamanya.”
Saya diam. Lalu memberanikan diri bertanya lagi.
Saya: “Tuan Guru, bagaimana menjawab orang yang berkata: ‘Lihat mereka yang tidak bertuhan, hidupnya damai-damai saja’?”
Tuan Guru: Wajah beliau teduh dalam remang lampu.
“Damai yang mana, Rudy?”
“Damai karena rekeningnya penuh? Itu damai yang fana.”
“Damai yang hakiki adalah damai ketika malaikat maut datang menjemput.”
Beliau melantunkan dengan suara bergetar:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
“Itulah damai yang sesungguhnya, Rudy. Damai yang menembus sampai liang lahat. Bukan damai yang hilang saat sinyal hilang.”
Saya menunduk. Nasehat itu menancap.
Saya: “Lalu Tuan Guru, yang kita lihat di berita itu, apakah itu Islam?”
Tuan Guru: Beliau menggeleng tegas.
“Bukan, Rudy. Itu nafsu yang memakai baju Islam.”
“Bom itu bukan dari Al-Qur’an. Perang itu bukan dari Sunnah.”
“Jangan engkau menilai samudra dari selokan yang kotor. Samudra tetaplah samudra.”
Hening. Hanya suara angin dan jangkrik. Lampu solar berkedip pelan.
Saya: “Tuan Guru… lalu apa yang harus saya lakukan agar hati ini tidak goyah lagi?”
Tuan Guru: Beliau menggenggam tangan saya. Hangat.
“Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, Rudy.”
Beliau membaca dengan khusyuk:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)
“Tegakkan Syariat, agar kakimu kokoh.”
“Hidupkan Tarekat, agar hatimu bercahaya.”
“Jangan hanya shalat dengan jasad. Hadirkan jiwamu dalam shalat, sampai engkau merasa bermunajat di hadapan-Nya.”
“Jangan hanya berdzikir dengan lisan. Berdzikirlah dengan hatimu, sampai dada ini bergetar dan air mata jatuh tanpa diminta.”
Saya: “Lalu tanda orang yang sudah merasakannya bagaimana Tuan Guru?”
Tuan Guru: Beliau tersenyum.
“Orang yang sudah minum air dari kelapa itu, Rudy…”
“Ia dicaci, ia memaafkan. Ia diuji, ia bersyukur. Ia sakit, ia berkata: Alhamdulillah, ini jalan pulang.”
“Karena ia tahu, dunia ini hanya persinggahan. Rumah aslinya di sisi Allah.”
Tuan Guru berdiri. Menatap langit bertabur bintang dari beranda surau.
“Rudy…”
Saya: “Ya Tuan Guru?”
Tuan Guru: “Jangan jadi orang yang hanya membasuh kaki di tepi pantai.”
“Basah saja, tapi tidak mendapatkan apa-apa.”
“Jadilah penyelam.”
“Karena mutiara tidak ada di permukaan. Mutiara ada di dasar.”
“Dan kedahsyatan Islam hanya akan engkau rasa jika engkau berani menyelam… sampai ke sumsum.”
Saya ikut berdiri. Air mata saya jatuh.
“InsyaAllah Tuan Guru. Saya akan belajar menyelam.”
Tuan Guru merangkul bahu saya.
“Bagus. Di Puncak Legend ini tempat kita belajar menyelam. Pelan-pelan. Bersama-sama.”
Al-Fatihah untuk Tuan Guru… 🤲🏻
Ya Allah, jangan jadikan kami Muslim di KTP saja. Jadikan kami Muslim yang hidupnya sampai ke sumsum.(*)














