BUMIAKTUAL.COM, SITUBONDO –
Nabi Musa Keramat membelah lautan dengan izin-Nya. Itu mukjizat.
Dahulu Fir’aun mengaku Tuhan dan menyewa para penyihir. Itu kesombongan.
Dukun memanggil arwah dan menerawang gaib. Itu tipu daya.
Dahulu tukang sihir memisahkan suami-istri, menggelapkan akal, bahkan menurunkan hujan dengan perjanjian pada jin. Itu laknat.
Hari ini, ada “Keramat” baru.
Namanya: Viral.
Namanya: Followers.
Namanya: Bisa.
Namanya: Dilihat manusia.
Namanya: AI yang menjawab semua, kecuali pertanyaan tentang hati.
Lalu Allah berseru:
“Sesungguhnya mereka itu adalah penyihir dan tidak akan beruntung penyihir itu dari mana saja ia datang” (QS. Thaha: 69).
Ternyata, hebat dan punya kekeramatan belum tentu dekat dengan Allah.
Viral belum tentu diridhaiNya.
“Bisa” belum tentu dicintaiNya.
Kadang yang paling menakjubkan, justru paling menjauhkan dariNya.
Yang menjadi timbangan hanya satu:
Seberapa Hidup Hatimu Dengan Allah. Seberapa Banyak Qolbunya dengan Dzikir.
Dan itu yang diajarkan di Pondok Pesantren Puncak Legend, Selobanteng, Banyuglugur, Situbondo.
Tempat di mana algoritma kalah oleh tasbih.
Fajar Yang Lahir Dari Tasbih
Pukul 05.30. Di ketinggian 850 mdpl, tidak ada lampu sorot.
Yang ada hanya denting cangkul menghantam bumi.
Santri meratakan tanah, sambil meratakan hati.
Setiap ayunan, ada nama-Nya. Setiap napas, ada dzikir yang tidak putus.
Di serambi bambu bernama Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia & Alam Rahmatan Lil Alamin, duduklah seorang lelaki. Usianya 57 tahun.
Wajahnya teduh seperti danau yang tenang di pagi hari. Matanya merendah, bukan karena kalah, tapi karena terlalu sering tundukkan kepala mengingat Allah.
Garis di wajahnya bukan keriput angkuh. Itu bekas mujahadah.
Tangannya kasar oleh cangkul, tapi lembut oleh tasbih.
Beliau adalah Tuan Guru Moh Sazli Harahap.
Beliau tidak datang membawa ijazah bertumpuk dari pesantren ternama.
Beliau tidak datang membawa panggung dan mikrofon.
Beliau hanya membawa satu pusaka:
Sebuah sanad yang bersambung ke Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dari Abu Bakar bersambung ke Rasulullah Nabi Muhammad SAW.
Dan di ujung sanad itu ada satu wasiat yang membelah dada:
“Mutu qabla an tamutu” — Matikan dirimu sebelum mati.
Bagi beliau, puncak Legend bukan sekadar pesantren.
Ini ruang bedah.
Tempat “aku” dibedah, agar yang hidup hanya Dia.
Mengubur Keramat Versi AI
Setiap bulan, kaki-kaki mendaki ke puncak legend.
Ada yang membawa luka. Ada yang membawa patah.
Ada yang datang dengan mata berbinar membawa satu permintaan zaman:
“Guru, ajarkan aku BISA!”
Bisa terbang. Bisa meramal. Bisa menyembuhkan.
Bisa kontennya FYP. Bisa ceramahnya ditonton sejuta orang.
Bisa doanya dikabul seketika. Bisa namanya disebut-sebut.
Itulah “keramat versi AI” zaman ini.
Serba instan. Serba tampil. Serba diukur dari tepuk tangan manusia.
Mendengar itu, Tuan Guru hanya menggeleng. Lama.
Jarinya menunjuk tasbih yang sudah lusuh di genggamannya.
“Karomah itu urusan Allah,” bisiknya lirih, menembus dada.
“Tugas kita bukan menjadi hebat atau keramat. Tugas kita menjadi hamba Allah.”
Dan hamba sejati, hanya punya satu kerja: ingat Allah. Senantiasa berdzikir sampai binasalah diri.
Bagi beliau, mengejar karomah adalah riya’ bathin paling beracun.
Karena kau tidak lagi menyembah Allah.
Kau menyembah hasil. Kau menyembah like. Kau menyembah kagum manusia.
Bukankah Nabi pun diperintah berkata:
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu”
(QS. Al-Kahfi: 110).
Imam Junaid pernah berpesan:
“Air di laut tidak akan kehausan, begitu pula arif billah tidak akan mencari Karomah.”
“Jika kau sibuk mengejar ‘bisa’,” ujar Tuan Guru, suaranya bergetar,
“lama-lama kau lupa kepada Al-Wahhab.
Kau akan sujud kepada hasil, bukan kepada Pemberi hasil.
Kau akan menjual hati, demi dibenarkan manusia.”
Padahal Allah sudah berjanji manis:
‘Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu’
(QS. Al-Baqarah: 152).
Di luar sana, “Keramat” dijual.
Paket karomah. Kelas pembuka mata batin. Kursus jadi orang sakti.
Di Legend, “keramat” dikuburkan.
Yang disemai di tanah ini hanya satu: Benih dzikir yang tidak butuh kamera.
Ilmu Hati: Tashfiyatun Nafs
Tuan Guru menyebutnya “Ilmu Hati”.
Bukan debat kusir. Bukan filsafat.
“Ilmu hati itu yang membuat kepalamu waras,” katanya.
Waras dari ujub. Waras dari takabur. Waras dari kata aku.
Waras dari candu dilihat manusia.
Dan kewarasan itu hanya datang ketika hati digosok tiap hari dengan Dzikirullah.(*)














