SITUBONDO, BUMIAKTUAL.COM –
Notifikasi masuk tiap detik. Jari sibuk scroll. Kepala penuh kerjaan.
Tapi anehnya, makin terhubung dengan dunia, hati justru makin gelisah.
Di lereng Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Situbondo, ada tempat yang menawarkan jalan sebaliknya. Namanya Puncak Legend.
Di sini tidak dijual pemandangan. Yang dijual adalah proses: mencuci hati.
Di bawah bimbingan Tuan Guru Sayyidi Sekh Moh Sazli Harahap, tempat ini menjalankan program Rehabilitasi Manusia 10 Hari. Tujuannya satu: mengembalikan hati yang kotor dan beku agar kembali tenang.
LANGKAH PERTAMA: “MATI” DARI DUNIA
Begitu tiba, HP wajib dititip. Kerja dicuti. Media sosial dilupakan.
Selama 10 hari, peserta hanya jadi “hamba”. Tidak ada jabatan, tidak ada notifikasi.
Rudy Pramodito, Humas Puncak Legend, menyebutnya “mematikan bising”.
“Kalau hati penuh notifikasi, omongan orang, dan ambisi dunia, mana bisa jernih? Kami ajak mereka fana dulu dari dunia,” kata Rudy kepada Bumiaktual.com, Rabu (9/7/2026).
Yang datang pun beragam. Ada direktur, ibu rumah tangga, mahasiswa, sampai mantan pecandu. Keluhannya sama: stres, insomnia, dan rasa kosong.
“Sudah ke dokter, sudah ke psikolog. Tapi tetap tidak tenang,” ujar Rudy.
MENCUCI HATI SELAMA 10 HARI
Setelah dunia dimatikan, proses pembersihan dimulai. Ada 3 agenda utama yang dijalankan:
1. Dzikir dan Tawajjuh
Siang dan malam, surau bambu bergema suara “Allah… Allah… Allah…”. Tanpa musik. Tanpa ceramah panjang. Hanya mengingat.
“أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ. Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang,” [QS. Ar-Ra’d: 28] tegas Tuan Guru.
2. Menjaga Wudhu dan Shalat Tepat Waktu
Peserta dilatih wudhu tidak pernah putus. Shalat 5 waktu berjamaah wajib on time.
“Yang kita tuju Maha Suci. Maka kita harus suci dulu,” kata Tuan Guru.
3. Muhasabah dan Tangis Taubat
Ini bagian paling penting. Peserta wajib mengenang dosa dari masa kecil hingga saat ini. Minta ampun atas segala dosa dari ubun-ubun hingga ujung kaki.
“Topeng dilucuti. Di sinilah hati mulai terasa ringan,” jelas Rudy.
“Gunung bertasbih. Angin bershalawat. Manusia tinggal ikut,” ujar Tuan Guru.
Menurut beliau, kabut yang turun tiap pagi bukan penghalang. “Kabut itu menyembunyikan kita dari dunia. Agar kita bisa benar-benar bermunajat dengan Allah.”
PULANG MEMBAWA TENANG
Yanto, 47 tahun, warga Surabaya, mengaku merasakan perbedaannya.
“3 hari pertama ikut program rehabilitasi ini. Yang paling penting, dada saya tidak sesak lagi,” katanya.
Rudy menegaskan, Puncak Legend bukan rumah sakit. Tidak ada klaim kesembuhan.
“Kami hanya menyediakan ruang dan wasilah agar hati dibersihkan. Yang menyembuhkan dan menenangkan tetap Allah,” katanya.
Biayanya tidak dipatok. Pakai sistem infak seikhlasnya. Peserta datang dari Surabaya, Malang, Jakarta, hingga Bali.
10 hari memang singkat. Tapi cukup untuk satu hal: membersihkan hati.
Di Puncak Legend orang diajarkan, ketenangan sejati bukan dari liburan ke luar negeri. Tapi dari hati yang bersih dan dekat dengan Tuhannya.
Karena pada akhirnya, hanya hati yang tenang yang bisa membuat hidup terasa ringan, di mana pun kita berada. (*)














