SITUBONDO, BUMIAKTUAL – Sebelum wafat, Nabi ﷺ meninggalkan satu wasiat penting: umat tidak akan dibiarkan berjalan tanpa penuntun.
Jawabannya terekam dalam hadits shahih riwayat Abu Hurairah ra.
DARI NABI KE KHALIFAH
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dahulu Bani Israil dipimpin para nabi. Jika seorang nabi wafat, diganti nabi lain. Sungguh tidak ada nabi setelahku. Yang menggantikanku adalah khalifah-khalifah yang banyak pengikutnya.”
Para sahabat bertanya, apa yang harus dilakukan?
“Laksanakan baiat pertama kepada mereka, tunaikan hak-hak mereka, dan mintalah kepada Allah bagian kalian. Karena Allah akan menanya mereka tentang kepemimpinannya.”
(HR. Bukhari 3606, Muslim 1842)
Garis kenabian telah putus. Tapi garis bimbingan berlanjut.
Dulu: Nabi → wafat → diganti Nabi.
Kini: Nabi ﷺ → wafat → diganti Khulafa’.
Allah tidak membiarkan umat tanpa pembina.
SIAPA KHALIFAH ITU?
Kata “khulafa’” bukan berarti nabi baru. Nabi ﷺ menegaskan: “La nabiya ba’di” – Tidak ada nabi setelahku.
Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan: mereka adalah para pemimpin, ulama, dan pewaris Nabi yang membimbing dengan ilmu dan amal.
Tugasnya tiga: menjaga agama, mendidik umat, dan menjadi teladan.
Dalam bahasa tasawuf disebut Mursyid. Dalam bahasa syariat disebut ulama rabbani.
DUA PERINTAH NABI
Setelah menyebut khalifah, Nabi ﷺ memberi dua perintah:
Pertama: Baiat.
Artinya janji setia untuk belajar, dibimbing, dan diluruskan. Bukan menyembah, tapi berpegang pada manhaj Nabi.
Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebut: mendengar, taat dalam kebaikan, menghormati, dan mendoakan. Karena mereka menanggung beban menuntun umat.
Nabi menutup: “Mintalah kepada Allah bagian kalian.”
Tugas kita ikhtiar mencari guru yang benar. Hasilnya serahkan kepada Allah.
PENTINGNYA PEMBIMBING
Hadits ini menjawab: bisakah kita belajar hanya dari Al-Qur’an dan Hadits tanpa guru?
Jawabnya: TIDAK. Bani Israil hancur bukan karena tak punya kitab, tapi karena tak ada yang membimbing mengamalkannya.
Karena itu Allah mengganti sistem kenabian dengan sistem pembimbing. Agar ada yang menjelaskan Al-Qur’an, mempraktikkan akhlak Nabi, dan meluruskan saat kita salah.
Imam Al-Ghazali berkata: “Agama itu rapuh tanpa Guru. Seperti pohon tanpa penyangga.”
Nabi ﷺ sudah mewasiatkan 1400 tahun lalu: akan ada yang menggantikan fungsi bimbingan beliau.
Pertanyaannya bukan “perlukah pembimbing?” Tapi “siapa pembimbingku?”
Karena kelak Allah tidak bertanya “kenapa kamu tidak jadi wali?”
Tapi “kepada siapa kamu belajar?
Siapa yang kau ikuti?”
Semoga Allah mempertemukan kita dengan khulafa’ yang jujur. Yang ilmunya bersanad, hatinya bersama Allah.
Perjalanan menuju Allah itu jauh. Dan paling celaka adalah yang merasa bisa sampai, padahal berjalan tanpa penuntun.
“Ya Allah, tunjukkan kami kepada orang yang menunjukkan kami kepada-Mu.” Aamiin. (*)








