Oleh: Salman Rudy
SITUBONDO, BUMIAKTUAL – Di tempat aspal enggan datang, di tempat GPS menyerah dan rute tak lagi ditemukan, perjuangan menuju Pesantren Puncak Legend di Desa Selobanteng justru dimulai.
Sebuah sepeda motor tua warna hitam pudar meraung menembus jalan setapak. Bodinya renta, tangkinya penyok, catnya memudar, dan knalpotnya batuk-batuk menantang tanjakan. Namun hari itu, motor tersebut membawa sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar semen: sebuah harapan.
Di atas motor itu, Pak Alwi, 45 tahun, telah bertahun-tahun mengangkut material menuju Puncak Legend. Sejak 2019, jalan terjal, tanjakan licin, jurang dan tebing telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Sak demi sak semen diikat pada bodinya. Ban yang mulai botak dipaksa mencengkeram lumpur. Di satu sisi jurang menganga, di sisi lain tebing menjulang. Kabut menggantung di hadapan, sementara tanjakan masih panjang.
Akses ke pesantren memang hanya jalan setapak. Kendaraan besar tak mampu. Karena itu, material harus diangkut dengan apa yang ada. Dan di situlah sepeda motor tua Pak Alwi mengambil peran.
Ketika motor tergelincir, perjalanan tidak berhenti.
Motor diangkat kembali.
Semen diperiksa dan diikat ulang.
Lalu gas ditarik lagi.
Meter demi meter.
Tanjakan demi tanjakan.
Bagi Pak Alwi, setiap perjalanan bukan sekadar mengantar material. Ada cita-cita yang sedang dibangun.
“Hanya tenaga dan tekad yang bisa saya berikan kepada pondok pesantren,” ujar Pak Alwi.
“Terkadang jatuh 3 kali di tanjakan yang sama. Tapi saya ingat, ini untuk santri. Jadi saya bismillah lagi,” lanjutnya.
Semen yang dibawanya bukan sekadar material. Setiap sak adalah bagian kecil dari cita-cita: membangun tempat wudu, ruang belajar, dan tempat sujud bagi para santri yang sedang menata kembali hidup mereka.
Di tempat seperti ini, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti.
Sepeda motor tua menjadi kendaraannya.
Keringat menjadi saksi.
Doa menjadi penguat langkah.
Dan ayat menjadi pegangan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
[QS. Ali Imran: 200]
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan berabhitlah serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
Berangkat dari ayat itu, langkahnya berubah.
Satu sak hari ini.
Satu sak besok.
Begitulah mimpi perlahan jadi bangunan.
Kelak ketika masjid berdiri,
ketika azan menggema di antara kabut Legend,
mungkin tak ada yang ingat siapa mengangkut semen.
Tak ada yang menghitung berapa kali jatuh.
Tapi tanah akan ingat.
Karena sebelum pondasi,
sudah ada jejak ban yang menanam pengorbanan.
Di Legend,
nilai kendaraan bukan dari harganya.
Tapi dari mimpi yang dibawanya.
Motor tua pun bisa mengantar ke kemuliaan,
ketika yang diangkutnya bukan semen,
melainkan harapan.
Teruslah meraung, wahai kuda besi.
Selama jalan masih ada,
selama tangan masih kuat menarik gas,
naiklah.
Karena peradaban tidak dimulai dari alat besar.
Ia dimulai dari hati yang terlalu besar untuk menyerah.
Semoga setiap tetes keringat Pak Alwi menjadi saksi, bahwa di Legend, kemuliaan dimulai dari satu sak semen.
Allahu Akbar.
Gas sekali lagi.
Sampai puncak.
Sampai mimpi jadi kenyataan. (*)














