BUMIAKTUAL, SITUBONDO — Di tengah upaya pemerintah pusat memperkuat fondasi pengentasan kemiskinan berbasis data dan pendidikan, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul menyampaikan optimisme baru dari Situbondo, Jawa Timur.
Dalam kunjungannya ke Pendopo Kabupaten Situbondo, Sabtu (19/4), Gus Ipul menyoroti pentingnya Sekolah Rakyat sebagai motor perubahan sosial yang menyasar langsung keluarga paling rentan.
“Sekolah Rakyat bukan hanya soal bangunan fisik,” ujar Gus Ipul di hadapan pilar-pilar sosial Kementerian Sosial dan pemerintah daerah.
“Ini adalah ruang lahirnya harapan baru. Kita ingin memberikan pendidikan bermutu kepada anak-anak dari keluarga paling rentan, yang selama ini terpinggirkan dari sistem,” lanjut Gus Ipul.
Ia mengungkapkan bahwa inisiatif Sekolah Rakyat telah menarik minat ratusan daerah di Indonesia. Namun, salah satu yang dinilai paling siap adalah Kabupaten Situbondo.
Pemerintah pusat pun berencana mengundang Pemkab Situbondo ke Jakarta untuk membahas teknis lanjutan.
“Target awal kami membangun 100 hingga 200 sekolah tahun ini. Kabupaten Situbondo sudah sangat siap, baik dari sisi lahan, perizinan, hingga kesiapan rekrutmen guru dan siswa,” imbuhnya.
Tak hanya pendidikan, Gus Ipul juga menekankan pentingnya penggunaan Data Tunggal Sosial Ekonomi dan Nasional (DTSEN) untuk merancang intervensi sosial yang lebih presisi.
Menurutnya, data tersebut akan menjadi kunci dalam memastikan program pemerintah tepat sasaran.
Sementara itu, Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menyambut penuh semangat arahan pemerintah pusat.
Bagi Rio, kombinasi antara DTSEN dan Sekolah Rakyat adalah langkah strategis yang menjanjikan.
“Saya happy sekali waktu pertama kali disampaikan soal DTSEN. Data ini membuat kebijakan lebih presisi. Kita bisa tahu siapa yang miskin ekstrem, siapa yang perlu disekolahkan, siapa yang butuh intervensi. Ini jurus pamungkas untuk mengatasi kemiskinan,” ujarnya.
Pemkab Situbondo bahkan telah menyiapkan lahan seluas enam hektare untuk pengembangan Sekolah Rakyat, serta mulai memanfaatkan bangunan eksisting sebagai langkah awal.
“Masyarakat desil 1-2 sangat membutuhkan sekolah ini. Kita sudah siapkan lahannya, datanya, dan siswa-siswinya. InsyaAllah kita sangat siap dan support abis,” tambahnya.
Rio pun memasang target ambisius: menurunkan angka kemiskinan di bawah 9 persen dalam lima tahun ke depan.
Namun lebih dari sekadar angka, ia ingin meninggalkan jejak kebijakan yang mampu mengubah wajah sosial masyarakat secara berkelanjutan.
“Pengentasan kemiskinan itu seperti pijat refleksi—yang dipijat kakinya, tapi efeknya terasa ke seluruh tubuh,” tuturnya dengan penuh keyakinan.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta gerak bersama masyarakat, Situbondo bersiap naik kelas—menuju kabupaten yang lebih inklusif, mandiri, dan sejahtera. (dra/usy)








