BUMIAKTUAL,SITUBONDO– Kejadian sapi mati massal secara mendadak di Desa Bantal, Kecamatan Asembagus direspon cepat Tim Gabungan Pemerintah. Mereka terdiri dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Situbondo, Tim Medis Pemprov Jawa Timur serta Tim Rumah Sakit Hewan Surabaya dan Tim Labolatorium Kesehatan Hewan Malang. Mereka Langsung mendatangi rumah Sumaliono, Selasa (04/01/2020). Dia adalah salah satu warga yang kehilangan dua ekor sapi dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Tim Gabungan mengambil beberapa sampel dari bagian tubuh sapi yang masih hidup. Di antaranya, darah, air liur, kotoran serta pakan ternak. Selanjutnya, sampel tersebut dibawa untuk dilakukan uji laboratorium.
Kepala Disnakkeswan Situbondo, Mohamad Hasanudin Riwansa mengatakan, pihaknya sengaja mengajak Pemprov jatim karena kebijakan ujian laboratorium untuk penyakit hewan ternak ada di tingkat Provinsi. “Kami mengambil sampel dari darah, batang(kotoran), air liur, tanah dan pakan ternak. Semua itu akan akan kita uji di laboratorium. Satu minggu lagi kami akan mengumumkan hasilnya,” ujarnya pria yang akrab disapa Udin itu.
Data yang diperoleh bumiaktual.com, dari sembilan ekor ternak sapi yang mati, tidak terjadi secara bersamaan. Tapi secara bertahap. Namun dalam waktu yang tak terlalu jauh. Misalnya, akhir bulan Januari 2020 ada tujuh ekor sapi milik warga mati tanpa sebab.
Lalu, pada Senin malam, tiga sapi milik Sumaliono warga Dusun Selatan, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus mengalami kejang-kejang hingga satu jam. Akibatnya, dua sapi miliknya mati secara misterius. ”Saat kejang-kejang lidah sapi milik saya keluar dan mengeluarkan suara keras. Karena sudah mati bangkai sapi dikubur di dekat kandang untuk menghindari penyebaran virus,” Kata Sumaliono. (dra/usy)









