SITUBONDO, BUMIAKTUAL – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Situbondo merilis penyebab kematian sembilan ekor sapi di Desa Bantal Kecamatan Asembagus, beberapa waktu lalu. Hasil dari laboratorium kesehatan hewan di Malang, menyatakan peristiwa tersebut terjadi akibat tympani atau perut kembung.
Kepala Disnakkeswan Situbondo, Hasanuddin Riwansia memberikan cara untuk menghindari kematian sapi karena tympani. Yakni, memperhatikan komposisi pakan terhadap hewan ternaknya. Salah satu contohnya peternak diharapkan tidak memberikan rumput muda. Sebab, menyimpan banyak air yang tentunya berbahaya bagi hewan ternak.
”Kalau mau diberi rumput muda, lebih baik di campur jerami. Atau dengan cara lain, diamkan dulu rumput muda sampai layu agar mengurangi kandungan air,” ujar pria yang akrab disapa Udin itu, Jumat (07/02/2020).
Lebih jauh, Udin menambahkan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir lagi. Sebab, kematian sapi bukan berasal dari penyakit menular. Ini dibuktikan dengan hasil penelitian dari laboratorium kesehatan hewan di Malang .”Hasil pengujian laboratorium kematian sapi terkait Rose Bengal Test (RBT) delapan sampel 100 persen dinyatakan negatif. Demikian juga dengan pengujian antrax ,toksin, plumbon dan sianida hasilnya negatif semua,” sambung Udin.
Meski demikian, hasil penelitian menunjukkan satu sampel sapi yang masih hidup positif terinfeksi cacing hati. Untuk itu, masyarakat diminta tidak mengkonsumsi hati sapi yang sudah rusak terserang cacing. Sedangkan dagingnya tetap bisa dikonsumsi.”Akan kami perintahkan dokter hewan untuk memberi obat. Namun, meski bisa diobati, hati sapi yang telah terserang tidak bisa seratus persen sembuh. Cacing menghilang namun meninggalkan kerusakan pada hati sapi,” sambungnya.
Diberitakan sebelumnya, dalam sepekan, sembilan ekor sapi yang berada di satu lingkungan tiba-tiba mati secara mendadak di Desa Bantal, Kecamatan Asembagus. Pemilik sapi mengaku bahwa, sapi mereka mengalami kejang setelah makan rumput yang diambil dari pematang sawah. (dra/usy)









