BUMIAKTUAL,SITUBONDO – Kabupaten Situbondo memiliki tiga pasar hewan. Dua diantanya sudah ditutup karena Virus Korona. Dampak penutupan aktifitas pasar hewan Situbondo sudah dirasakan penjual hewan. Mereka melaporkan kepada Komisi II DPRD Situbondo. Alat kelengkapan tersebut sudah melakukan pembahasan melalui rapat internal, Senin (13/04/2020). Hasilnya anggota legislatif meminta agar ada evaluasi kembali terkait penutupan di dua pasar hewan itu.
Wakil Ketua Komisi II, Hadi Prianto meminta agar penutupan di dua pasar hewan, Yaitu Pasar Kamisan yang berlokasi di Desa Kertosari Kecamatan Asembagus, serta Pasar Seninan di Desa Kalimas Kecamatan Besuki dilakuakn evaluasi kembali. “Pasar hewan Satthoan, di Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Situbondo masih beraktifitas. Lantas kenapa hanya dua pasar yang di nonaktifkan?,” kata pria yang akrab disapa Hadi itu.
Hadi juga menambahkan, dampak penutupan dua pasar hewan, ada transaksi ribuan ekor ternak di dua pasar hewan itu setiap minggunya harus gagal. Khususnya ternak sapi. Sebab, sekali perputaran pasar ada sekitar 900 sampai 1.100 ekor ternak yang ditransaksikan di dua pasar itu. “Pedagang sapi sudah banyak yang telepon ke komisi II. Karena mereka tidak bisa kembali menjual hewan sapinya di pasar itu,” kata politikus Demokrat itu.
Dia juga mengatakan, dalam beberapa waktu dekat ini, anggota komisi II akan melakukan pembahasan bersama Dinas Perternakan terkait perlunya evaluasi penutupan dua pasar hewan. Selain itu juga akan membahas tentang kewajiban pedagang dan pembeli saat memasuki area pasar hewan.
Karena pasaran hewan tersebut biasanya melibatkan orang-orang dari berbagai daerah luar Situbondo. Termasuk dari Surabaya, Gresik, dan sejumlah daerah lain. “Dibuka atau tidak, nanti kita sampaikan kembali lagi,” imbuhnya.
Data yang diperoleh bumiaktual.com, kedua pasar hewan itu memilih untuk tutup. Ini setelah ada protes dari masyarakat karena adanya transaksi yang melibatkan orang dari luar Kota Santri. Kedua pasar hewan itupun ditutup secara resmi oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Situbondo, drh Hasanuddin Riwansia sejak 02 April lalu. (dra/usy)










