BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Sebanyak 64 peserta dari berbagai daerah ambil bagian dalam lomba Ojung di Alun-Alun Situbondo, Minggu (9/8/2026). Tradisi yang identik dengan adu ketangkasan menggunakan rotan ini digelar sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-208.
Peserta datang dari sejumlah daerah, di antaranya Situbondo, Bondowoso, Jember, Madura, hingga Probolinggo. Kehadiran peserta lintas daerah membuat arena Ojung tidak hanya menjadi tempat pertandingan, tetapi juga ruang pertemuan masyarakat dan pelaku tradisi dari berbagai wilayah.
Di arena, dua peserta berdiri berhadapan dengan membawa rotan sebagai senjata. Mereka bergantian melakukan serangan dan bertahan sesuai aturan pertandingan.
Meski pertarungan berlangsung keras dan pukulan rotan menjadi bagian utama pertandingan, suasana tetap dijaga dalam koridor sportivitas. Persaingan hanya berlangsung selama berada di arena.
Setelah pertandingan berakhir, para peserta kembali berbaur dan menjaga hubungan baik. Nilai tersebut menjadi salah satu pesan penting yang melekat dalam tradisi Ojung.
Pertandingan bukan semata-mata tentang siapa yang menang atau kalah, tetapi juga bagaimana peserta mampu menerima hasil pertandingan dan tetap menjaga persaudaraan.
Ojung merupakan tradisi masyarakat Madura yang telah berkembang dan mengakar di sejumlah wilayah, termasuk Situbondo. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat setempat.
Dalam kepercayaan sebagian masyarakat, Ojung juga berkaitan dengan ritual menolak bala dan memohon turunnya hujan. Karena itu, tradisi tersebut kerap dimainkan pada musim kemarau.
Seiring perkembangan zaman, Ojung tidak hanya dilakukan dalam konteks tradisi. Pemerintah daerah dan masyarakat juga mengemasnya dalam kegiatan kebudayaan dan perlombaan agar tetap dikenal serta diminati generasi berikutnya.
Bagi para peserta, mempertahankan tradisi juga membutuhkan persiapan fisik. Salah satunya dilakukan Gandi, peserta senior asal Bondowoso, yang mengaku mempersiapkan diri sebelum turun ke arena.
Selain melatih teknik pukulan, Gandi menjaga kondisi fisiknya agar mampu menghadapi pertandingan. “Saya mempersiapkan teknik pukulan dan fisik. Untuk menjaga stamina, saya juga minum jamu khusus,” ujar Gandi usai bertanding.
Menurutnya, pertandingan Ojung membutuhkan kesiapan fisik sekaligus kemampuan mengatur tenaga. Peserta harus mampu membaca gerakan lawan, melakukan serangan, dan bertahan hingga pertandingan berakhir.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan Ojung merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Madura yang masih dijaga dan dirawat di Situbondo.
Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya penting dari sisi kebudayaan, tetapi juga mengandung nilai sportivitas yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ini tradisi masyarakat Madura yang masih kita jaga, kita rawat, dan kita kembangkan. Mudah-mudahan dari Ojung kita bisa belajar tentang makna sportivitas,” ungkap pria yang akrab disapa Mas Rio ini.
Pemkab Situbondo pun berencana menjadikan lomba Ojung sebagai agenda tetap dalam perayaan Harjakasi. Pemerintah daerah menilai kegiatan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dengan cakupan peserta yang lebih luas.
Tidak hanya mempertahankan tradisi, pengembangan lomba juga diarahkan untuk meningkatkan daya tarik kompetisi. Pada penyelenggaraan tahun depan, Mas Rio menargetkan hadiah juara pertama meningkat hingga minimal Rp10 juta.
Target tersebut berbeda dengan penyelenggaraan tahun ini, di mana total hadiah yang diperebutkan seluruh peserta mencapai Rp10 juta.
Peningkatan hadiah diharapkan mampu menarik lebih banyak peserta, termasuk dari luar daerah dan bahkan tingkat nasional. Dengan demikian, Ojung berpeluang berkembang dari sekadar perlombaan dalam rangkaian Harjakasi menjadi salah satu agenda budaya yang memiliki daya tarik lebih luas. (dra/usy)












