SITUBONDO, BUMIAKTUAL.COM – Dalam khazanah Islam, kemiskinan bukanlah mahkota yang harus dipertahankan. Kemiskinan adalah ujian. Dan menolak ikhtiar untuk keluar darinya, adalah bentuk lain dari kelalaian.
Pernyataan tegas itu kembali digaungkan oleh Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap. Dengan suara yang membelah sunyi beliau berkata:
“Hanya dua manusia yang menolak menjadi kaya: Orang Bodoh, dan Orang Gila.”
Pernyataan ini bukan seruan materialisme. Ini adalah tamparan untuk kita yang sering bersembunyi di balik kata “Tawakkal” tapi enggan bekerja.
Perintah Allah: Bertebaran dan Berdzikir
Islam tidak memenjarakan manusia di atas sajadah. Setelah ibadah, Allah justru memerintahkan kita untuk beraktifitas mencari karunia-Nya.
Allah berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah di muka bumi. Carilah karunia Allah dan berdzikirlah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Jumu’ah: 10)
Kata kuncinya jelas: fantasyiru — bertebaran. Wabtaghu — berburu karunia.
Rasulullah ﷺ pun menegaskan:
اَلْكَاسِبُ حَبِيْبُ اللهِ
“Orang yang bekerja mencari nafkah adalah kekasih Allah.” (HR. Thabrani)
Maka tawakkal sejati adalah bekerja keras, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Sunnah Para Nabi: Meminta dan Mengelola Kekayaan
Kekayaan bukanlah aib. Ia adalah amanah.
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, seorang nabi sekaligus raja, justru bermunajat:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku.” (QS. Shad: 35)
Dan Allah memujinya:
نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat kembali kepada Allah.”
(QS. Shad: 30)
Bahkan Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, takwa, kehormatan, dan kekayaan.”
(HR. Muslim 2721)
Jika para Nabi meminta ghina (kekayaan), maka alergi terhadap kekayaan adalah penyimpangan.
Meluruskan Makna ZUHUD
Di sinilah banyak yang keliru. Zuhud sering disalahpahami sebagai menjauh dari harta benda.
Padahal hakikat Zuhud adalah: hartanya ada di tangan, tapi tidak bersemayam di hati.
Islam justru mengajarkan agar kita kaya, agar tangan kita lapang untuk bersedekah.
Zuhud yang benar adalah: banyak bekerja, banyak memiliki, dan banyak menyisihkan sebagian hartanya di jalan Allah.
Sebagaimana firman Allah:
وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan infakkanlah hartamu di jalan Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
“Orang zuhud bukan yang bajunya compang-camping. Orang zuhud adalah yang gajinya besar, usahanya luas, sedekahnya lancar. Hartanya mengalir, tapi hatinya tidak terikat.” (Kalam Tuan Guru)
Fakir & Miskin: Ujian yang Ditakutkan
Rasulullah ﷺ sendiri berlindung dari kefakiran:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran.”
(HR. Abu Dawud 5090)
Beliau Nabi Muhammad SAW juga memperingatkan:
كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُونَ كُفْرًا
“Hampir-hampir kefakiran itu menjerumuskan kepada kekufuran.”
(HR. Abu Nu’aim)
Allah memerintahkan kita menyebut nikmat:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.”
(QS. Ad-Dhuha: 11)
Menyebut nikmat bukan dengan pamer, tapi dengan karya dan membuka pintu rezeki bagi orang lain.
Dua Jalan Kekayaan
Ada dua wajah kekayaan.
Kekayaan Qarun: mabuk dunia, ditelan bumi oleh kesombongannya.
Kekayaan Abdurrahman bin ‘Auf: hartanya sujud, ia dijamin surga karena dermawannya.
Rasulullah ﷺ menegaskan:
اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari)
Maka pilihlah jalan Abdurrahman. Pilihlah doa Sulaiman.
Bodoh karena tidak tahu jalannya. Gila karena tahu jalannya tapi tidak melangkah.
Islam tidak datang untuk memelaratkan umatnya.
Islam datang untuk memuliakan manusia. Di bumi dengan kerja, di langit dengan takwa.
Allahu Akbar… Al-Fatihah untuk para guru, pelita yang tak pernah padam… 🤲🏻














